Category: Bisnis

  • Kisah Nyata : “Usaha Tidak Menghianati Hasil” Modal Tekun & Sabar

    Kisah Nyata : “Usaha Tidak Menghianati Hasil” Modal Tekun & Sabar

    Ini adalah sharing pribadi saya, yang merupakan 100% kisah nyata, tidak saya buat-buat sama sekali. Menceritakan tentang perjalanan salah satu bisnis online saya, yang baru menghasilkan uang, setelah 2 Tahun berjalan. Padahal saya sudah hampir menyerah berkali-kali, mulai dari masalah teknis yang sangat sulit di pecahkan, masalah kehabisan modal, website kena takedown, sampai di momen mendapatkan hinaan dan sama sekali tidak mendapatkan dukungan dari orang terdekat. Tapi berkat keyakinan, ketekunan dan kesabaran, akhirnya setelah 2 Tahun, bisnis ini sukses mencetak omset yang cukup membahagiakan, dan makin hari makin bertambah, dan sampai sekarang masih sedang berlangsung. Hari ini, bisnis ini tuh rasanya seperti, pesawat yang sedang dalam proses “take off”. Terbang naik terus semakin tinggi, dan sesekali ada kejutannya. Dan disinilah saya mendapatkan makna sesungguhnya, tentang “Usaha tidak pernah menghianati hasil”. Dari yang tanpa omset selama 2 Tahun, berkat keyakinan, tekun dan sabar, per hari ini, bisnis ini bisa mendapatkan penghasilan bersih, setara UMR, hanya dalam 1 hari.

    Hari ini, tanggal 21 Februari 2024, sekitar beberapa menit yang lalu (sekitar pukul 22 lewat 15 menitan lah). Saya duduk di depan laptop, baru saja selesai membalas chat terakhir dari salah satu customer, yang happy banget dengan hasil yang ia terima, dari layanan yang ia beli lewat salah satu website saya ini.

    Sambil bengong, saya ngeliatin aplikasi whatsapp desktop yang lagi kebuka di layar laptop saya. Walaupun badan rasanya udah rada berat, performa otak udah mulai melambat, tanda udah mulai ngantuk.

    Cuman saya lagi nyaman banget duduk di kursi kerja saya, sambil mandangin laptop. Ngantuk sih, tapi belum bener-bener pengen tidur.

    Tiba-tiba saya kepikiran aja sama kata-kata customer tadi. “Makasih banyak ya kak, seneng banget!, nanti saya pasti order lagi…”, gitu katanya.

    Dan customer yang puas seperti ini, udah nggak kehitung lagi sih jumlahnya. Banyak banget. Hampir semua customer kami selalu menyampaikan kepuasannya.

    Cuman tadi pas sambil bengong, saya sambil mikir, Oh ternyata ini yang disebut “Usaha tak menghianati hasil”.

    Kalimat bijak tersebut, sering banget saya denger dari dulu, tapi tidak benar-benar paham maknanya. Nah tadi, tiba-tiba saya seperti mendapatkan pencerahan. Benar-benar memahami kalimat bijak : “Usaha tak akan pernah menghianati hasil”.

    Padahal, kalau dipikir-pikir, dari awal bisnis ini saya bangun, saya sudah hampir menyerah berkali-kali. Kendala-kendala yang saya hadapi dari awal, benar-benar kendala yang sulit banget di pecahkan. Itu juga kenapa, bisnis sejenis ini, sangat jarang yang bisa survive atau berkelanjutan. Karena memang benar-benar sulit.

    Tapi kalau berhasil menembus berbagai halangannya, saya akan berpeluang menjadi pemain utama. Karena sampai sekarang, sudah banyak pemain lama yang menyerah.

    Disclaimer

    Walaupun ini merupakan blog, tapi sejujurnya, sebagian besar artikel yang saya tulis di www.putuadi.id, bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri saya sendiri. Terutama di artikel ini, banyak hal yang tidak bisa saya jelaskan dengan rinci. Karena memang tidak ingin saya buka ke semua orang. Jadi kalau nanti ada hal yang membingungkan saat kamu baca. Ya maklumi aja ya. 😁 Karena menulis, bagi saya, salah satu cara untuk merayakan sesuatu, kadang untuk healing, atau kadang hanya sekedar untuk membuat catatan aja.

    Ini Bisnis Apa Sih?

    Saya tidak akan jelaskan, ini bisnis apa. Karena bukan itu pointnya. Disamping itu, saya juga tidak ingin kata kunci ataupun nama website nya ter-Index disini. Tapi intinya, secara garis besar, ini adalah bisnis digital, yang bentuknya sebuah web aplikasi, yang produk utamanya adalah, layanan yang bisa menaikan kredibilitas seseorang, ataupun brand, di dunia digital marketing.

    Kapan Bisnis Ini Dimulai?

    Saya seorang web developer, awal mula ide bisnis ini adalah, karena terinspirasi dari seorang client, yang baru saja membeli website kepada saya. Waktu itu kejadiannya di Bulan Januari 2022. Beliau membicarakan tentang kebutuhannya akan sebuah layanan, yang bisa menaikan kredibilitas usahanya.

    Dari obrolan itu, saya sangat excited dan passioned banget bikin oret oretan konsepnya. Karena saya ngeliat ini punya peluang yang sangat besar. Kemudian beberapa hari setelahnya, saya coba buat rancangan konsep yang lebih matang, dan mulai membangun sistemnya sedikit demi sedikit.

    Di tahap ini, yang saya bangun adalah sistemnya dulu (mesinnya), bukan websitenya. Jadi tiap hari, saya ngoding start dari jam 7 malam, sampai larut malam, intinya sampai nggak bisa nahan ngantuk lah. Dan begitu terus setiap malam. Kenapa malam? karena siang sampai sore saya ngurusin bisnis saya yang lain yang udah jalan. Dan saya nggak mau terganggu dengan itu.

    Setelah 2 Bulan ngoding tiap malam, akhirnya saya menemukan ide nama, yang menurut saya sangat cocok untuk bisnis ini. Selain namanya bagus, ini juga sekaligus menjadi kata kunci utama, saat orang mencari layanan jenis ini di internet. dan kebetulan domainnya tersedia, akhirnya saya register dulu, biar engga keduluan orang lain.

    Dan akhirnya pada tanggal 16 Maret 2022, jam 20:58:12 PM (data saya ambil dari server) saya berhasil membeli/register nama domain tersebut.

    Waktu itu websitenya belum langsung online, masih dalam tahap pengujian di localhost (laptop). Setelah berhari-hari memastikan semuanya berjalan dengan sempurna, akhirnya aplikasi saya pindahkan dari local host (laptop), ke web hosting (internet). Artinya sekarang web aplikasinya sudah online.

    Tanpa perayaan apapun, tanpa satu orangpun yang tau. 😁

    Apa Kendalanya?

    1. Kemampuan Skill

    Dari awal saya bikin oret-oretan konsepnya dikertas, sebenarnya di momen itu pun, kendala sudah mulai bermunculan di kepala saya. Mulai dari gimana teknis eksekusinya nanti dari sisi coding, database, API (Application Programming Interface), dll. Karena project ini tuh, ada di level kerumitan dua tingkat diatas, dari seluruh project yang pernah saya kerjakan sebelumnya. Saya belum pernah mengerjakan project sekompleks ini. Sehingga kadang ngerasa mungkin (optimis), kadang ngerasa nggak mungkin (pesimis). Tapi kalau nggak di coba, nanti takut nyesel.

    Saya nggak mau nyerah disini, jadi saya paksakan diri untuk ngembangin skill pemrogramman saya. Saya palajari semua hal-hal yang saya butuhkan untuk ngebangun aplikasi ini. Dan ternyata makin dipelajari, saya merasa makin optimis, bahwa hal ini mungkin untuk dilakukan.

    2. Integrasi antar aplikasi yang tidak stabil

    Aplikasi yang saya bangun ini, nantinya akan di integrasikan dengan aplikasi lainnya. Nah sistem integrasi ini tidak di desain untuk melakukan hal yang akan kami lakukan. 😁 Sehingga sering kali proses berhenti di tengah jalan. Tentu ini masalah besar. Walaupun sistem sudah dibuat sedemikian rupa untuk menghindari terjadinya macet di tengah-tengah proses, tapi tetap saja sampai sekarang masih sering terjadi. Walaupun tidak sesering dulu. Intinya, saat kendala ini terjadi, client sudah pasti komplain.

    Dan waktu itu benar-benar hampir tidak ada solusi untuk mengatasi kemacetan proses ditengah jalan seperti ini. Karena di internet tidak ada tutorialnya sama sekali, atau setidaknya waktu itu saya belum nemu. Macet disini tuh bukan setelah di proses ulang, maka prosesnya kembali jalan, tidak!. Kalau udah macet, maka sering kali macetnya permanen.

    Itu yang bikin saya sering galau, dan pengen nyerah aja rasanya. Temen ngobrol juga nggak ada (orang yang ngerti ranah ini). Cari di internet juga nggak ada jawabannya. Pusiiiiiing!

    3. Banyak komplain

    Customer kami tentu tidak paham apa yang terjadi di belakang layar. Namanya juga customer, yang dia tau hanyalah, apa yang ia beli, harus sesuai dengan yang kami janjikan. Ia nggak? Jika sesuai, dia akan happy, jika tidak sesuai dia akan komplain. Padahal, saat pesananannya tidak sesuai, bukan berarti kami sengaja melakukannya. Padahal itu terjadi karena sebuah kesalahan yang tidak sengaja terjadi pada sistem kami. Tapi makin banyak komplain yang masuk, makin banyak perbaikan dilakukan, sehingga akhirnya sistem kami semakin hari semakin baik. Tapi bukan berarti sempurna, karena sesekali ada aja masalah baru yang muncul.

    Sebagai orang yang berzodiak libra (ciee percaya zodiak). Salah satu sifat saya adalah “enggak enakan”. Sehingga tiap ada customer komplain, salah satu hal utama yang selalu saya tawarkan adalah Refund atau pengembalian dana. Karena tiap saya bisnis, salah satu hal yang paling saya jaga adalah integritas. Saya nggak mau mengecewakan atau merugikan orang lain. Disamping itu, sebagai umat Hindu, saya sangat percaya akan karma pala. Jadi kalau hal yang berkaitan dengan “Amanah dan Kejujuran dalam bisnis”, skrup saya cukup kenceng.

    Tapi dari sifat ini pula, yang akhirnya bikin saya sering kepikiran, sering ngerasa bersalah banget saat customer komplain. Sehingga sering kali saya kepikiran untuk berhenti dan meninggalkan bisnis ini. Karena sulit banget melihat dan merasakan begitu banyak customer yang kecewa. Terutama di awal-awal.

    Bisnis ini pernah saya tidak urus sama sekali selama berminggu-minggu. Memilih fokus ke bisnis utama yang udah jelas hasilnya. Tapi karena ngelihat banyak juga customer yang repeat order, akhirnya saya ketarik-tarik lagi ke sini.

    4. Lebih besar pengeluaran dari pada pemasukan

    Sejak website ini online, 1 tahun setelah itu, yang menggunakan layanan kami kebanyakan datangnya dari orang-orang yang saya kenal. Itupun karena di tawarin. Karena waktu itu pengunjung web harian, angkanya masih sangat kecil. Rata-rata cuman 5 – 10, sesekali nyentuh 20 orang per hari. Omset per bulan kadang adaaaaaa, kadang nggak ada! 😂. Ibarat kata nih, omset cuman cukup untuk bayar domain dan hosting doang. Biaya saya begadang, dan lain-lain itu, belum balik modal tuh di tahun pertama.

    Namanya juga bisnis, pasti tujuan utamanya adalah untuk mencari keuntungan. Lah ini 1 tahun berjalan tapi nggak untung-untung. Malah sering kali pakai uang pribadi untuk nalangin bayar server.

    Kalau sebulan dua bulan nggak untung sih nggak masalah, masih wajar. Lahhhh ini udah 2 Tahunan masih belum untung juga. Sehingga makin kesini saya makin pesimis, sering kepikiran untuk iklas aja untuk ninggalin bisnis ini.

    Tapi lagi-lagi ketarik-tarik sama pelanggan setia saya. Orderan masuk walaupun uang receh, saya tetap layani. Walaupun pikiran saya sudah bukan di bisnis ini lagi.

    5. Terbentur Regulasi

    Belum sampai disitu, waktu itu saya tidak sengaja ketemu situs hukumonline.com dan saya iseng cari aturan yang berkaitan dengan aktifitas bisnis yang saya lakukan di aplikasi saya ini. Dan saya tiba-tiba tertampar! gemeteran dan keringat dingin ngebaca bahwa ternyata di hukum UU ITE sudah ada regulasinya. Padahal saat awal saya ngebangun aplikasi ini, saya googling sana sini, belum ada hukum yang mengatur hal seperti ini.

    Karena saya cek tanggal postingannya, memang disana baru beberapa hari yang lalu artikel tersebut di posting. Nah intinya, disana ada 2 pasal yang relevan atau terkait.

    Duhhh! mana aplikasinya udah jadi, udah ada customer (walaupun masih uang recehan). Apakah ini waktunya berhenti?

    Waktu itu saya galau banget, stress banget. Dalam hati saya, “Wah fix, bisnis ini harus benar-benar saya tinggalin aja”.

    Beberapa hari setelah itu, saya lagi nyuci mobil di carwash deket rumah. Nah kebetulan ketemu sama pensiunan salah satu instansi BUMN. Yang berkaitan banget sama Hukum UU ITE. Ini bener-bener saya ngerasa sebuah kebetulan yang sangat kebetulan. Mungkin Tuhan ngirim saya kesana untuk dengerin pandangan beliau.

    Beliau ngakunya sih salah satu pejabat tinggi di instansi BUMN gitu, dan baru aja bulan ini beliau pensiun. Singkat cerita, saya konsultasi ke beliau, saya ceritakan tentang aplikasi saya ini, lalu ceritakan juga bahwa ada 2 pasal UU ITE yang relevan dengan itu. Dan penjelasan dari beliau ini cukup menenangkan hati saya.

    Beliau bilang, “Dik Putu, Negara ini masih banyak dibebani sama persoalan-persoalan yang jauh lebih besar dan jauh lebih penting dari ini…. Lagipula, hukum akan bertindak jika ada yang melaporkan, karena ada pihak yang dirugikan. Selama tidak ada pihak yang dirugikan dan melapor ke pihak berwajib, maka jangan kuatir”. Begitu kurang lebih pesan beliau kepada saya.

    Karena memang, walaupun bisnis saya ini di “gray area”, tapi tidak ada satu orang pun yang saya rugikan. Justru kehadiran aplikasi ini untuk membantu. Semua customer kami happy kok! (kecuali klo ada error aplikasi, ya itupun kan udah di refund 😁 jadi hitungannya tidak merugikan).

    Dari yang awalnya down banget, karena baca 2 pasal UU ITE itu, berkat pandangan dari beliau, akhirnya saya semangat lagi.

    6. Website di blacklist whatsapp

    Badai pasti berlalu? berlalu gigi lu gondrong! badai belum berlalu brooooo! 🤣 badai berikutnya adalah waktu saya mulai bikin rancangan kegiatan marketing. Karena dari awal jalan sampai titik ini, saya belum pernah melakukan kegiatan marketing yang proper. Selama ini hanya mengandalkan trafik dari website, sosmed standar, dan belum pernah menggunakan iklan berbayar atau sejenisnya. jadi selama ini 100% penjualan yang terjadi lewat cara-cara organik.

    Waktu itu rencana saya, adalah kirim whatsapp blast ke nomor-nomor para pemilik bisnis, karena target utama kami adalah para pemilik pebisnis yang aktif menggunakan sosial media. Kebetulan saya tergabung di banyak banget group whatsapp entrepreneurship gitu lah, yang isinya para pemilik usaha, kebanyakan sih levelnya masih UMKM.

    Tapi saya nggak mau spamming juga, ke group-group ini, apalagi nomor yang terdaftar di group-group tersebut kan nomor pribadi saya, jadi saya ngerasa nggak etis aja sih rasanya, kalau langsung posting penawaran di group.

    Jadi idenya gini, saya export semua nomor anggota, yang ada di tiap group. Setelah itu, saya kirim chat mereka satu persatu, yang isiinya chat penawaran.

    Beberapa hari sebelumnya, saya beli HP baru, memang sengaja saya siapkan khusus 1 HP dan 1 Nomor baru untuk semua kebutuhan bisnis ini nantinya.

    Singkat cerita, saya mulai kirim chat penawaran, ke satu persatu nomor tadi. Dari 10 nomor pertama, lanjut ke 15 noomr, 20 nomor dan kebablasan sampai 100an nomor. Nahhhh! inilah awal mula masalah besar terjadi.

    Tiba-tiba aplikasi whatsapp saya logout dan ternyata nggak bisa login lagi, setelah beberapa menit, saya baru nyadar, kalau nomor saya ini terblokir. Dugaan saya sih, mungkin karena terlalu banyak kirim chat ke banyak nomor baru (saya tidak save nomor mereka, mereka juga tidak save nomor saya) apalagi isi chatnya template gitu, isinya sama semua, dan di dalamnya juga ada link/url website gitu. Ya saya yakin pasti kamu tau chat-chat template penawaran / chat jualan yang saya maksud.

    Semua ceritanya ada disini :

    Ahhhh nomor di blokir kan tinggal beli nomor baru brooo!. Nahhhhhh! ini dia yang juga saya pikirin waktu itu, jadi setelah kejadian itu, yaaa saya tenang-tenang aja 😂, sampai akhirnya saya beli nomor baru, lalu lakuin hal yang sama, tapi begitu sekali kirim chat penawaran, Whatsapp saya langsung terblokir lagi. Padahal itu nomor baru loh! Wah di tahap ini, saya mulai rada-rada kuatir.

    Saya beli nomor lagi… tapi tetap aja langsung terblokir. Makin panik kan? Udah coba tukar pakai HP lain juga, tapi hasilnya sama aja, terblokir2 juga.

    Sampai akhirnya saya menyadari bahwa yang di blokir ini, bukan karena nomornya atau bukan karena HPnya. Tapi karena link URL website saya. Jadi yang bikin terblokir itu sebenarnya adalah link URL website aplikasi saya 🤣😂🤣😂

    Sepertinya algoritma whatsapp, pertama-tama medeteksi adanya chat spamming ke ratusan nomor. Jadi di tahap itu, yang di blokir cuman nomor doang.

    Begitu ganti nomor baru, template chat yang sama, saya copy paste dan kirim chat blast lagi ke banyak nomor. Dugaan saya di tahap ini, algoritmanya whatsapp menandai URL website saya sebagai URL redflag. Sehingga jika ada nomor baru, yang mengirim chat yang mengandung link URL tersebut, maka diasumsikan itu spamming dari pelaku yang sama.

    Untuk kesekian kalinya beli nomor baru, sampai-sampai saya udah tidak peduli lagi apakah itu nomor cantik atau bukan, saya beli acak aja, ngambilnya random gitu.

    Setelah beli nomor baru untuk yang kesekian kalinya, saya lakukan uji coba pelan-pelan. Jadi begitu nomor baru terpasang, saya coba kirim chat yang isinya cuman teks biasa. Dan ternyata itu normal-normal aja, tapi begitu saya coba kirim chat yang mengandung alamat website saya, whatsapp langsung terblokir. 🤣

    Jadi fix, yang bikin terblokir itu adalah link atau alamat website aplikasi saya.

    Artinya apa? artinya, saya tidak bisa pakai whatsapp untuk alat komunikasi dengan customer saya.

    Apa jadinya, sebuah bisnis tanpa punya nomor whatsapp? Pasti dicurigai macem-macem kan?. Ada fasenya, di website saya pasangin tools untuk livechat gitu. Jadi tiap ada chat masuk, kelamaan nggak di bales, calon pelanggan kabur, dan tidak bisa di followup lagi. Saya pernah juga coba pakai telegram, dan beragam aplikasi chat opsional. Tapi tetap saja orang Indonesia, alat komunikasi utamanya itu tetap pakai Whatsapp. jadi kalau kita berbisnis, tidak punya nomor whatsapp, itu sangat-sangat aneh sih.

    Semua ceritanya ada disini :

    Segala upaya solusi dan dinamikanya, saya ceritain lengkap di artikel diatas. Tapi intinya, waktu itu saya benar-benar patah arang. Rasanya sudah tidak ada harapan lagi untuk bisnis ini 😂

    Mood saya berantakan banget, pokoknya senggol bacok, banyak orang sekitar saya kena pelampiasan saya lah intinya. Orang ga salah jadi salah.

    Waktu itu saya sudah di fase untuk belajar merelakan dan menyudahi bisnis ini.

    Tapi saya memang pada dasarnya, si kepala batu banget. Jadi kalau ada orang, yang ngata-ngatain apalagi menghina karya saya. Waduhhhh…. hati-hati banget! Maka itu akan memberikan saya energi yang maha dasyat! hanya untuk nunjukin bahwa anggapan mereka itu salah! Itu mirip kayak reaksi fusi nuklir yang terjadi pada bom atom, yang menghasilkan ledakan super dasyat!.

    Waktu itu saya di bully sama pacar saya sendiri. Niatnya mau curhat, mau meringankan beban pikiran, ehhh malah kena bully. 😂

    Ya namanya juga mood lagi berantakan, settingannya udah senggol bacok aja. lagi super sensitif nih boss! senggoh dong!

    Dan dari bullyan inilah justru, saya bangkit berkali-kali lipat. Nunjukin bahwa apa yang ia katakan itu salah besar!. Saya berantem besar dan hampir putus karena cuman persoalan itu 😁😂🤣

    7. Diragukan dan dihina pacar sendiri

    Waktu itu, saya coba sharing masalah saya ke pacar tercinta. Harapannya dia cukup bisa ngasih semangat atau ngasih support sistem. Nggak ada harapan untuk minta bantuan apa-apa sih sebenernya, cuman sekedar ingin di dengerin aja.

    Baru aja ngobrol beberapa kalimat, ehhh doi langsung nyerocos ngomong kalimat-kalimat yang menyakitkan hati saya. Yang awalnya saya cuman patah arang, sekarang arangnya jadi hancur berkeping-keping 🤣😂 … (maaf saya nggak bisa tulis kata-katanya doi disini, tapi sangat-sangat menyakitkan hati saya).

    Intinya, responnya bisa salah seperti itu, karena “ketidak tahuan”. Doi nggak ngerti apa-apa tentang aplikasi yang saya bangun ini. Sehingga pandangannya keliru aja sih. Soalnya dari dulu, tiap kali saya coba sharing, dia nggak pernah ngerti.

    Waktu itu saya hancur, marah, dan benci banget sama dia. Di benak saya udah pengen putus aja. Karena menurut saya harusnya disaat kondisi pasangan terpuruk seperti ini, peran pasangan adalah sebagai support sistem. Seperti hal yang selama ini saya lakukan untuk dia.

    Tapi tidak lama setelah kejadian itu, dia minta maaf dan membujuk saya, ngejelasin kalau dia tidak bermaksud seperti itu. Ya intinya saya terima permintaan maafnya, dan hubungan kami jalan lagi, walaupun sampai sekarang saya tidak pernah mau sharing apa-apa lagi tentang bisnis ini ke dia.

    Di tengah keterpurukan saya, dimana aplikasi prosesnya yang sering macet, komplain dari customer, penjualan tidak pernah mencapai target, modal sering ditalangin dari duit pribadi, website terblokir di whatsapp (nggak bisa pakai whatsapp lagi). Besar banget alasan untuk berhenti sebenarnya.

    Tapi justru karena karya saya dihina, dicampakkan, dan diragukan oleh pacar sendiri. Ini yang membuat saya akhirnya berubah jadi Hulk 😎. Dikepala saya cuman ada kejengahan, rasa ingin membuktikan, bahwa “Kamu salah!, lihat aja nanti, bisnis ini akan berhasil… akan aku buktikan!”.

    Dan di hari valentine kemarin (14 Februari 2024). Saya belikan doi kado spesial, yang uangnya dari hasil keuntungan bisnis ini. Doi happy banget nerima kadonya, karena isinya adalah hal yang ia butuhkan selama ini. Tapi satu hal yang dia tidak tau adalah, kado itu dibeli menggunakan uang dari bisnis ini. 😎 Sampai hari inipun doi belum tau itu. Saya memang sengaja mengunggu momennya, kapan-kapan saat doi nanyain kabar bisnis ini, saya akan ceritakan dan sekaligus tunjukin history penjualan dari bisnis ini.

    Tapi jangan salah ya, saya sangat-sangat mencintai pacar saya. Ini saya lakukan, bukan lagi karena dorongan rasa marah, tapi lebih kepada upaya untuk mengubah pandangan dia terkait bisnis yang sudah lama saya perjuangkan ini.

    Mungkin ini terdengar seperti drama di film-film, tapi ini true story.

    Apa Yang Membuat Saya Bertahan?

    Selain alasan-alasan diatas, ada satu hal yang paling mendasari, kenapa saya tetap bertahan sampai hari ini, di bisnis ini. Adalah karena satu kata, yaitu “POTENSI”.

    POTENSI yang saya maksud begini, kalau di pandang dari rumus ekonomi, yang paling basic sekalipun, itu adalah tentang “supply and demand” (persediaan dan permintaan), Bisnis ini tuh, pasarnya akan selalu ada, permintaannya akan semakin besar, tapi saat ini suplaynya sangat terbatas.

    Dikala ada permintaan dalam jumlah besar, tapi persediaannya terbatas. Itu adalah indikasi peluang bisnis yang sangat-sangat gurih. Apalagi jika kita bisa menjadi salah satu pihak yang men-supply demand tersebut, Maka auto cuan.

    Jadi bayangan saya terhadap potensi bisnis ini, di kepala saya, itu diibaratkan seperti “setitik cahaya kecil”, yang selalu menyala, segelap apapun masalah yang datang. Walaupun setitik cahaya kecil, dikala gelap, ia akan menjadi sumber penerangan utama.

    Jadi, POTENSI, adalah sumber motivasi utama saya, untuk mencoba sekali lagi… sekali lagi… dan lagi.

    Coba deh dipikir baik baik, lah kita, segala sumber dayanya sudah punya (aplikasinya sudah jadi, websitenya sudah jadi), sudah siap untuk mensupply nih, nah PR berikutnya adalah tinggal mendekatkan diri ke market. Karena marketnya sudah ada, permintaannya besar, tapi yang bisa mensuplai masih sangat sedikit.

    Nah itulah alasan kenapa saya tetap bertahan sampai sekarang. Yaitu karena melihat potensi bisnis ini. Itu adalah mindset yang selalu menyala di dalam hati dan pikiran saya.

    Bagaimana Keadaan Bisnis Ini Sekarang?

    Seperti yang saya jelasin di awal-awal tadi, sekarang bisnis kami ini sedang dalam kondisi yang sangat membanggakan. Keyakinan yang saya pegang selama 2 Tahun belakangan, tentang potensi bisnis ini, akhirnya mulai terbukti sekarang. Benar saja, sekarang bisnis ini sedang ketemu momentumnya. Kalau di ibaratkan pesawat, Nah si pesawatnya sekarang lagi Take Off. Manuver ini terjadi tepat pada awal Januari 2024. Berikut ini adalah screen capture dari dashboard “Google Search Console” website saya.

    Grafik pengunjung bisnis baru saya

    Kalau ibaratkan pesawat, sebelum take off, tentu pesawat harus melaju datar dulu kan?, disaat kecepatannya sudah memadai, maka barulah pesawat layak untuk take off. Apa gitu kali ya filosofinya? 😂


    Catatan : kenaikan ini bukan karena iklan berbayar, endorsment, ataupun hal semacamnya. Ini benar-benar terjadi secara organik.


    Bisa dilihat grafik diatas, dari ujung kiri ke kanan, perhatikan periode tanggalnya. Disana terlihat betapa mirisnya pengunjung website saya dari Tahun 2022 sampai akhir Tahun 2023.

    Grafik diatas adalah gambaran “Usaha tidak menghianati hasil”, kuncinya adalah tekun dan sabar.

    2 Tahun broooo! 🤣😂

    Yang awalnya, tiap minggu kadang ada omset, kadang kagak. Bayar domain dan hosting ditalangin mulu. Tapi sekarang sangat bersyukur, dikit-dikit ada aja notifikasi orderan masuk.

    Perasaan tiap hari rasanya happy, penuh rasa syukur aja sih. Ternyata hal yang saya perjuangkan selama 2 Tahun ini, berbuah manis. Nggak sia-sia, dan sudah bisa dikatakan jadi salah satu sumber penghasilan yang oke lah sekarang. Bisa di bangga-banggain lah intinya. 😁

    Apa Yang Mau Di Capai Kedepannya?

    Sebetulnya kalau di lihat dari grafik pengunjung website diatas, tentu masih sangat-sangat jauh, kalau dibandingkan dengan jumlah pengunjung website, bisnis utama saya, yang 1 harinya bisa nyentuh rata-rata 6.000 – 8.000an pengunjung. Dan itupun kalau dibandingkan dengan bisnis temen-temen yang lain, ini mah nggak ada apa apanya. ehehehe. Tapi untuk kapasitas saya, seorang Putu Adi. Ini cukup oke.

    Grafik pengunjung bisnis utama saya

    Tapi sekali lagi, ini tentang “potensi”. Cerita baru saja dimulai brooo.

    Bisnis utama saya, produknya adalah produk fisik, yang sebelum jualan, kita harus mikirin produksinya dulu, setelah ada orderan masuk, kita harus packing dulu, baru kirim barangnya ke kurir, pengiriman berhari-hari, barulah sampai ke tangan customer. Rata-rata sih pengiriman sekitar 1 – 2 hari, bahkan kalau kota yang jauh seperti aceh (sumatra) dan sorong (papua) itu bisa hitungan mingguan. Belum lagi ada resiko barang rusak saat pengiriman.

    Nah sedangkan, bisnis baru saya ini, adalah bisnis digital. Yang dijual adalah layanan. Sehingga saat ada orderan masuk, seketika langsung di proses oleh sistem. Tidak perlu produksi, tidak perlu packing, tidak perlu kirim ke kurir. Jadi dari segi pekerjaan jauh lebih gampang, dan dari segi biaya jauh lebih murah. Sedangkan harga layanan yang saya jual disini (produk digital), harganya jauh lebih mahal dan lebih menguntungkan dibandingkan dengan bisnis utama saya (yang produknya fisik).

    Jadi potensinya sangat-sangat besar.

    Kedepannya, saya lagi merencanakan untuk rekrut tim. Utamanya untuk CS (balesin chat customer), operator sistem (yang memproses dan memantau kinerja sistem), dan editor (untuk rutin memproduksi konten).

    Ini 3 posisi yang sementara ini paling saya butuhkan, untuk menggantikan posisi saya. Agar saya bisa lebih fokus pada kegiatan atau strategi marketing, sehingga dengan adanya tim, harapannya target-target bisa dengan mudah dicapai.

    Penutup

    Dari sini saya benar-benar paham makna dari “Usaha tidak pernah menghianati hasil”. Berkat ketekunan dan kesabaran selama 2 Tahun, akhirnya sekarang seluruh kerja keras saya berbuah manis. Saya tidak sedang ingin berupaya memotivasi siapa-siapa, ini murni artikel yang saya tulis untuk merayakan kemenangan saya aja sih. jadi tanpa banyak basa basi lagi. artikel ini saya tutup.

    Terima Kasih sudah membaca.

  • Jangan Lakukan Ini, Atau Bisnis Kamu Tidak Bisa Pakai Whatsapp Lagi Seumur Hidup!

    Jangan Lakukan Ini, Atau Bisnis Kamu Tidak Bisa Pakai Whatsapp Lagi Seumur Hidup!

    Banyak hal yang harus kamu perhatikan, agar nomor kamu tidak diblokir permanen oleh whatsapp. Bagi kamu yang belum mengalami apa yang saya alami hari ini, mungkin kamu akan menganggap pemblokiran oleh whatsapp adalah hal yang remeh temeh. Karena kalau di blokir : “Ya toh bisa di recovery kan?”, atau “yaaa toh bisa beli nomor baru lagi kan?”.

    Heyyyy Pak Mansur, kalau kamu melakukan ini, masalah yang akan kamu hadapi tidak se-simpel itu. Baca ini baik-baik sampai selesai, biar kamu tidak pernah mengalami kesalahan fatal yang saya lakukan ini.

    Sekarang bisnis saya ini, sudah tidak bisa lagi pakai aplikasi whatsapp, seumur hidup!

    Nggak peduli mau bikin akun baru atau ganti nomor berapa kalipun, pihak whatsapp akan terus menerus memblokir bisnis kamu.

    Kronologi

    Salah satu bisnis saya, bergerak di bidang jasa, running online, bentuknya webiste, dan udah jalan selama 1,5 Tahun. Dan dari awal jalan, website ini sebenarnya sudah menghasilkan transaksi. Walaupun, tanpa ada kegiatan marketing sama sekali. Yang menggunakan jasa kami biasanya orang terdekat (kenalan), atau orang yang memang mengunjungi website kami, lalu tertarik, dan akhirnya transaksi. Jadi sejak awal sampai bulan lalu, walaupun sudah menghasilkan, tapi bisnis ini saya anggap, sebagai bisnis sampingan aja.

    Tapi kali ini (sejak 2 Bulan lalu) saya mulai niatkan untuk di seriusin. Karena sebetulnya hasilnya oke. Tanpa di apa apain aja, lumayan buat tambah-tambah. Apalagi kalau di seriusin.

    Sehingga mulailah saya buatin strategi bisnisnya. Mulai dari marketing, sales, sampai operasional.

    Target market kami, adalah pelaku UMKM di seluruh Indonesia.

    Sehingga salah satu kegiatan, yang saya lakukan kemarin adalah, mengirimkan penawaran ke teman-teman UMKM yang contactnya ada di group-group whatsapp UMKM (yang saya juga ada di dalamnya).

    Untuk mengirimkan penawaran, tentu saya harus export dulu seluruh contact all member group, lalu dari data contact tersebut, barulah saya kirimin penawaran satu-persatu.

    Simak juga bagaimana cara saya meng-export data contact dari group-group whatsapp disini : “Cara Mengambil Nomor HP di Group Whatsapp Secara Massal”

    Setelah seluruh contact berhasil saya export, lalu saya desain formatnya, dimana tiap nomor HP, saya kasih hyperlink (wa.me/+62xxxxxx), sehingga saat nomor di klik, maka akan otomatis membuka aplikasi whatsapp desktop. Terakhir, tinggal di paste aja text penawarannya + upload gambar brosur.

    Mungkin ada yang bilang, “Kenapa nggak pakai whatsapp broadcast aja?” atau “Kenapa nggak pakai aplikasi whatsapp blast aja?”

    Alasannya sudah saya jelaskan di postingan sebelumnya. “Cara Mengambil Nomor HP di Group Whatsapp Secara Massal”

    Awal Mula Masalah

    Nahhhhh seperti cerita di artikel saya sebelumnya, yang ngebahas tentang : “Berapa Batas Jumlah Kirim Chat Promosi Iklan Di Whatsapp? Sampai Dianggap Spam dan Di blokir?”

    Disana saya bercerita, bagaimana saya mengirimkan penawaran ke banyak nomor whatsapp (pelaku UMKM). dan akhirnya berujung nomor whatsapp diblokir permanen oleh whatsapp, setelah mengirim chat ke 114 nomor. Padahal saya udah tau dari awal, bahwa whatsapp itu ngebatesin ngirim chat promo. Sehingga dari awal saya udah rencanain sehari cuman kirim ke 20 nomor saja, tapi karena keTOLOLan saya, akhirnya bablas sampai 114 nomor,

    Kenapa saya ngeyel tetep lanjut sampai 100an nomor? karena saya pikir, ya kalau di blokir, kan tinggal ganti nomor aja, simpel kan? Toh ini nomornya juga baru saya beli tadi siang, kan belum ada yang ngesave juga, yaaaa sekalian pengen eksperimen juga sih. Kayak pengen tau sebenernya, batasnya berapa? biar tau dari based on pengalaman, nggak cuman katanya-katanya aja… Gitu saya ngomong dalem hati 😂

    Akhirnya kirim chat promo dari 20 nomor, berlanjut sampai 50 nomor, sampai akhirnya 100 nomor. Begitu sampai nomor ke 114, tiba-tiba whatsapp saya logout sendiri, baik di desktop ataupun di HP.

    Dan saat dicoba untuk login, muncul keterangan “diblokir untuk menggunakan WhatsApp. Hubungi dukungan untuk bantuan.”

    Masalah Makin Pelik

    Setelah kejadian pemblokiran itu, besoknya saya dengan santainya pergi ke counter HP, untuk beli nomor perdana yang baru. Sesampainya dirumah, nomornya langsung saya pasang ke HP, register ke 4444, dan daftar akun baru ke whatsapp. Semua berjalan dengan lancar, damai sentosa.

    Setelah itu, saya sempat melakukan setup profile whatsapp bisnis, seperti mengubah profile picturenya, melengkapi deskripsi, jam operasional, alamat, email, website, daftar produk, dll. Intinya saya lengkapi semuanya, agar profile terlihat profesional.

    Kemudian saya ubah juga nomor whatsapp yang ada di website, sehingga saat ada calon customer yang landing di website, mereka bisa langsung menghubungi nomor whatsapp yang baru.

    Setelah semuanya sudah selesai, sekarang saya siap melanjutkan perjuangan yang kemarin tertunda 😂

    Belum sempat ngirimin chat promo, tiba-tiba ada chat masuk dari calon customer, untuk nanya-nanya harga. Kemudian, saya kirim balasan, dengan menyertakan link URL website kami. contoh :

    “Hallo Kak, berikut daftar harga layanan kami : www.namadomain.com/pricelist”

    Begitu chat itu saya enter. Tiba-tiba whatsapp saya logout lagi

    Nah disini udah nggak lucu lagi nih. Saya mulai cemas.

    Ini diluar prediksi saya!. Ternyata bukan hanya nomor aja yang di blokir oleh whatsapp, tapi alamat website atau domain bisnis saya tadi, juga di blokir!

    Keterangan : Domain itu contoh : www.NamaBisnisKamu.com , www.BaksoTheBest.co.id, www.BaksoTheBest.co.id/pricelist, … dll.

    Kalau yang di blokir nomor aja, kan tinggal beli baru, lalu pakai lagi seperti biasa. Ia nggak?

    Nah kalau domain website yang diblokir dan ditandai sebagai spam (walaupun sebenarnya bukan spam), maka berapa kalipun kita ganti nomor, dan bikin akun WA baru, akan terus diblokir oleh whatsapp, saat kita kirim chat, yang mengandung alamat domain yang sudah di tandai melanggar tadi.

    Nah masalahnya, namanya bisnis online, tentu nama domain bakalan kesebut terus dong tiap kali kita melakukan penawaran.

    Disisi lain, whatsapp adalah aplikasi chat utama, yang dipakai rakyat Indonesia. Kalau kita nggak punya nomor whatsapp, bakalan dianggap aneh sih, oleh calon customer. Ia nggak?

    Nah disinilah latak dilemanya. Kalau ngeyel tetep pakai WA bakal di blokir terus, kalau nggak pakai WA, di anggap aneh oleh calon client.

    Soalnya salah satu pertanyaan yang datengnya dari chat sosmed (IG dan FB) adalah nomor Whatsapp. Contoh : “Kak ada nomor whatsappnya nggak? mau nanya-nanya dulu…” (padahal di bio udah ada, di deskripsi udah ada (biasa lahhh).

    Nah kalau calon client minta nomor WA, tapi kita bilang nggak punya, kan jadi kelihatan kayak ada apa-apanya, aneh, janggal, bakal di curigai macem-macem, dll. Ya nggak?

    Saran

    Gunakan ini sebagai pelajaran ya. jangan ulangi kesalahan yang kelihatannya remeh temeh ini. Tapi dampaknya FATAL banget ke bisnis kamu. Terutama bisnis online, yang customer masuk lewat website.

    1. Jangan kirim chat promo lebih dari 100

    Targetkan sehari setidaknya kirim ke 20 penawaran saja, jangan lebih.

    2. Amankan alamat website kamu

    Jangan gunakan link url asli misalnya nama website kamu adalah www.JasaSumurBorBali.com

    Jangan sertakan alamat website itu di dalam penawaran kamu, ubah link aslinya menggunkan URL Shortener seperti bitly atau tinyurl. Sehingga yang awalnya www.JasaSumurBorBali.com/pricelist

    Nanti setelah di ubah, menjadi bit.ly/3Ou9zFJ

    Nah nanti link ini yang kamu gunakan di chat penawaran. Sehingga kalau terjadi apa apa, nama domain website kamu tetap aman.

    Solusi Sementara

    Nah kembali ke kasus saya tadi. masalah ini sudah terlanjur terjadi. Yang pasti, kita tidak bisa berhenti sampai disini aja, ia nggak? namanya bisnis, harus tetap berlanjut. Kita cari solusi yang paling memungkinkan.

    Opsinya ada banyak sebenernya, salah satunya yang paling dekat adalah, ganti pakai telegram. Cuman sementara solusi yang saya pilih adalah, pakai plugin live chat di website. Dari 3 opsi plugin, akhirnya saya pilih “tawk to”. Tadi sudah saya pasang, udah uji coba juga, dan berhasil.

    Kenapa “tawk to”? kenapa nggak pilih yang terbaik? contohnya si “3cx live chat”

    Itu plugin yang saya coba pertama kali malah, tapi nggak tau apa penyebabnya, chat baloonnya nggak nongol di website saya, padahal installasi udah sesuai panduan, dan udah saya pastikan berkali-kali, tapi tetep nggak nongol.

    Ya sudah, saya pilih “tawk to” aja dulu. Toh sistemnya juga sama bagus, integrasi antara website dan monitoringnya bagus.

    Karena ini pertama kalinya saya pakai plugin live chat seperti ini, saya jadi dapet pengalaman baru, dan baru ngerti, ternyata seperti ini layanan 24 jam yang sesungguhnya.

    Karena kalau pakai plugin ini, si admin bener-bener bakalan di tuntut untuk standby 24 jam.

    Ada pengunjung di web, ada alarm. ada customer chat, ada alarm. Walaupun si admin lagi tidurpun, pasti bakal kebangun dah! karena alaremnya berisik banget! kayak alarm kebakaran. Dan suaranya nggak berenti kalau nggak masuk ke chat dashboardnya 😂🤣

    Nah itu dulu sharing-sharing kali ini, semoga ada manfaatnya.

    Salam

    Putu Adi.

  • Kasus Nyata : Pengalaman Mendapatkan Komisi Dari Shopee Affiliate

    Kasus Nyata : Pengalaman Mendapatkan Komisi Dari Shopee Affiliate

    Di bulan Januari 2023, Saya iseng daftarin akun shopee saya, ke program shopee affiliate. Cara daftar shopee affiliate itu gampang banget. Tinggal masuk kesini : https://affiliate.shopee.co.id lalu klik tombol Gabung Sekarang. Lalu tinggal ikuti aja instruksinya. Gampang banget kok. Seperti daftar akun pada umumnya.

    cuman waktu itu belum benar-benar saya seriusin. Nah akhirnya sekitar 2 Bulan lalu, saya baru mulai coba eksperimen, itupun karena salah satu bisnis online saya ini lagi upgrade website baru (tampilan website yang baru).

    Di website yang terbaru ini, saya coba terapkan strategi konten marketing, dimana di tiap artikelnya, saya sisipkan link untuk membeli produk, yang kebetulan topiknya sedang saya bahas di artikel tersebut. Misalnya, di satu artikel saya lagi ngebahas daun teh hijau, disana saya tawarkan rekomendasi produk teh hijau.

    Berapa omsetnya?

    Di bulan pertama nyoba, zoonk! cuman dapet berapa gitu lupa, intinya kecil banget. Tapi ternyata di Bulan kedua, dari tanggal 1 Juli 2023 sampai hari ini tanggal 28 Juli 2023 (28 hari), omsetnya Rp 2.549.783 dan dibawah ini, tampilan dashboard shopee affiliate saya.

    Ya tentunya Rp 2.549.783 ini, cuman omset ya, nilai transaksi penjualan yang terjadi berkat link yang saya pasang di artikel, jadi bukan nilai komisinya.

    Berapa komisinya?

    Komisi shopee affiliate itu, di hitung per produk yang terjual. Dan nilai komisinya, berbeda-beda tiap produk, beda kategori, beda besaran komisinya. Tapi rata-rata, persentase komisi per produk, mulai dari 5% – sampai maksimal 10%.

    Nah kalau dilihat dari dashboard shopee affiliate saya diatas, disana terlihat bahwa per bulan Juli 2023 (dari tanggal 1 – 28) yang ngeklik link shopee affiliate saya, total 46x klik, dari sana terjadi 18 pesanan, dengan total belanja Rp 2.549.783

    Nah lalu, berapa gaji shopee affiliate saya?

    Komisi yang saya dapatkan dari bulan pertama hingga bulan ini, adalah Rp 44.628

    Pasti ada yang mikir, Ihhh kecil banget yak?

    ehhh… jangan dibandingin dengan margin keuntungan kalau lagi dagang! Karena affiliate dan dagang itu sangat berbeda. Affiliate itu nggak perlu mikirin modal usaha, nggak perlu stok produk, nggak perlu packing-packing, nggak perlu bayar karyawan, dll. Resikonya hampir nggak ada! Biaya juga hampir nggak ada. Karena disini kita nggak jualan barang, tapi merekomendasikan barang. Sebagai ucapan terima kasih, kita dikasih komisi.

    Bagaimana Potensinya?

    Coba perhatikan, 46x klik, dapet total 18 pesanan, dan dari sana dapet total komisi Rp44.628. Menurut kalian sepadan nggak? (karena tiap orang akan beda-beda jawabannya). Kalau menurut saya pribadi sih sepadan.

    Karena saya selalu berfikir faktor kali. Prinsipnya gini, walaupun keuntungan per 1 item sedikit, tapi kalau bisa di kali banyak, maka untungnya akan menjadi banyak.

    Apalagi ini baru coba-coba kan?, belum bener-bener saya lakukan dengan serius loh. Bagaimana kalau dilakukan dengan serius ya?

    Kalau dipikirin banget strateginya, harusnya sih bisa dapet klik lebih dari 46x deh, apalagi produknya bagus banget, harusnya 100 – 500 pesanan itu, bisa banget dicapai sih. Lah ini baru 18 pesanan loh dapet Rp44.628.

    Kalau menurut saya sih ini sangat potensial. Tinggal sekarang mikirin bagaimana cara menciptakan faktor kali, atau daya ungkit yang lebih besar. Bagaimana cara agar, link shopee affiliate kita di klik banyak orang.

    Itu dulu sih yang bisa saya sharing hari ini, tentang pengalaman mencoba program shopee affiliate di Tahun 2023.

    Semoga bermanfaat.

    Salam,

    Putu Adi.

  • Shopee Xpress diciptakan untuk hentikan candu Gratis Ongkir?

    Shopee Xpress diciptakan untuk hentikan candu Gratis Ongkir?

    Asal usul budaya Gratis Ongkir

    Dulu, awal diperkenalkannya marketplace di Indonesia, seingat saya sekitar Tahun 2010an. Waktu itu belum ada yang namanya gratis ongkir.

    Bahkan jauh sebelum marketplace, orang Indonesia dulunya belanja online di kaskus FJB (forum jual beli). Nah di kaskus, jangankan gratis ongkir, kita sebagai pembeli, kalau mau bayar, itu kena biaya lagi. Karena waktu itu sistem pembayarannya masih pakai rekening bersama (rekber). Jadi antara toko, sistem pembayaran, dan kurir semua terpisah. Pokoknya primitif banget lah waktu itu.

    Nah kemudian dari 2010 ke 2015, beragam perusahaan marketplace mulai bermunculan, bukalapak, tokopedia, shopee, lazada, blibli, dll. yang datang dengan beragam promo yang memanjakan pembeli.

    Ini adalah masa masa stimulus, semua pelaku marketplace mendorong masyarakat yang awalnya belanja di toko konvensional (offline), agar beralih terbiasa berbelanja online di marketplace.

    Di tengah – tengah kompetisi marketplace yang semakin sengit, dimana masing masing dari mereka, saling mengeluarkan senjata pamungkasnya untuk memenangkan hati customer.

    Mulai dari iklan iklan unik, pakai bintang iklan kelas dunia, promo diskon gila gilaan, cashback, dan salah satunya adalah gratis ongkir.

    Promo gratis ongkir adalah salah satu strategi marketing yang sangat-sangat efektif untuk menstimulasi / membuat orang yang tadinya terbiasa belanja di toko konvensional, jadinya tertarik berbelanja online.

    Karena memang faktanya, barang sejenis, harga yang ditawarkan di marketplace, bisa jauh lebih murah, jika dibandingkan kita beli di toko konvensional.

    Kalau dilihat dari sudut pandang pembeli, sebetulnya sudah pasti beli barang di marketplace bakal jauh menggiurkan, ragam produk yang banyak, harga yang ditawarkan jauh lebih murah, serta segala kemudahan yang ditawarkan oleh marketplace. Tapi salah satu yang menjadi pertimbangan belanja atau tidaknya adalah, biaya kirimnya.

    Karena untuk beberapa kasus, saat berbelanja di marketplace, ongkirnya bisa jadi lebih mahal dari harga produknya. Misal, harga produknya 50.000, biaya kirimnya bisa aja 70.000.

    Karena lokasi penjual dan pembeli berjauhan secara geografis. atau, walaupun lokasi  penjual dan pembeli berada di satu pulau, tapi beda kota misalnya, (yang ongkir per kg harusnya relatif murah), tapi karena bobot paketnya berat, sehingga ongkirnya juga jadi mahal.

    Intinya, sering kali yang bikin orang enggan belanja online, adalah karena ada biaya ongkos kirim yang harus dibayar.

    Nah perusahaan marketplace melihat masalah itu menjadi peluang sebagai alat marketing, untuk menarik hati customer. Udah harga barangnya murah, gratis ongkir pula.

    Akhirnya belanja online dan gratis ongkir ini sudah menjadi budaya, di semua marketplace besar di Indonesia.

    Sampai sampai pelanggan pun sudah terlanjur manja atau kecanduan, kalau belanja online tapi nggak gratis ongkir, nggak jadi belanja, dan pindah ke aplikasi lain.

    Gratis ongkir merugikan marketplace?

    Seingat saya, budaya gratis ongkir ini sudah dimulai sejak Tahun 2017an. Selama program ini berjalan, boleh dibilang, para marketplace lah yang menanggung ongkos kirim, seluruh transaksi untuk produk-produk yang berlabel gratis ongkir.

    Kenapa marketplace mau bayarin? ya karena ini sudah jadi strategi marketing mereka, kalau tidak ikutan kasih free ongkir, pelanggan akan lari ke marketplace kompetitor.

    Tapi untungnya perusahaan startup marketplace ini di backup dana yang besar oleh para investornya. Sehingga ngasih gratis ongkir ke pelanggannya mirip kayak dana untuk ngiklan di TV, billboard, dll. Gratis ongkir = biaya marketing.

    2020 seluruh Dunia dihantam pandemi covid 19. Banyak unit bisnis terganggu dan merugi.

    Nah untuk diketahui, perusahaan shopee ini merupakan anak perusahaan, dari Sea Grup, perusahaan publik yang pusatnya di Singapura. Sea Grup punya banyak lini bisnis di seluruh dunia. Dan pendanaannya sendiri berasal dari luar negeri. Saat ekonomi dunia penuh dengan ketidakpastian, maka anak perusahaan seperti Shopee akan ikut terdampak.

    Belum selesai dihantam covid 19, perang rusia – ukraina juga meledak. Yang membuat pendanaan dari induk perusahaan jadi terganggu.

    Sehingga, mau nggak mau, shopee harus melakukan efisiensi di mana mana, termasuk PHK karyawan.

    Dan menurut pengamatan saya, shopee juga akan melakukan efisiensi di Gratis ongkir.

    Nah ngomong-ngomong gratis ongkir,  baru baru ini, shopee membuat layanan pengirimannya sendiri, yaitu. Shopee Xpress.

    Bagi yang sudah pernah belanja di shopee menggunakan jasa kirim Shopee Xpress, udah pasti tau, seperti apa layanannya.

    Pengirimanyna lambaaaaaat bangeeeeeeet….! Awalnya saya pikir, cuman pengiriman dari jakarta ke bali aja yang seperti itu, ternyata dikota-kota lain juga ngalemin. (Bisa di baca disini)

    Apakah Shopee Xpress hanya akal-akalan?

    Kenapa tiap kali kita checkout belanjaan di shopee, lalu pilih gratis ongkir, secara default, kurir yang terpilih adalah Shopee Xpress, yang layanan pengirimannya sangat lambat itu?

    Atau jangan-jangan ini cuman akal-akalan shopee aja?, agar penggunanya membenci layanan gratis ongkir, dan mulai membiasakan diri untuk ikhlas bayar ongkir?

    Kenapa saya bisa bilang gitu? karena saya perhatikan setelah beberapa kali belanja barang di shopee, seluruh paket yang dikirim oleh Shopee Xpress, semuanya bikin gregetan!, pengirimannya lambat banget!, rata-rata 2 minggu baru sampai. Padahal barangnya kita butuhin segera.

    Diwaktu yang bersamaan saya beli barang di shopee, tapi pakai jasa kirim regular (AnterAja, J&T, dsj…) pengirimannya cepet-cepet aja, 2-3 hari sudah sampai.

    Nah lalu saya berspekulasi, apa jangan-jangan Shopee menciptakan Shopee Xpress, karena sebuah misi?, yaitu menghilangkan budaya gratis ongkir di Indonesia.

    Mau gratis ongkir? ya harus sabar menunggu!, paket 2 minggu baru sampai.

    Atau mau cepet? ya bayar ongkir!, paket 2-3 hari sudah sampai.

    Seakan – akan pesan itu yang mau disampaikan oleh shopee.

    Sekali lagi, ini cuman spekulasi saya aja ya. 

    Kita dukung penghapusan Gratis Ongkir?

    Saya bikin artikel ini, justru karena saya bisa memahami keadaannya. Justru memang sudah waktunya dibiasakan, kalau belanja online, ya harus bayar ongkir.

    Biar ada gambaran, saya coba ilustrasikan, agar dapet konteksnya.

    Saya kan tinggal di Bali, saat saya beli barang di jakarta, berarti paket saya tersebut, selama pengiriman jakarta-bali, akan berpindah – pindah tangan.

    Bayangin aja, berapa manusia yang menghandle paket tersebut dari jakarta hingga bali? emang orang-orang ini nggak di gaji? kan orang kerja harus digaji.

    Selain melibatkan manusia, juga melibatkan alat transportasi, mulai dari sepeda motor (kurir jemput paket), dikirim ke gudang, disortir, lalu dimasukkan ke truk, dikirim ke bandara, lalu diterbangkan oleh pesawat, sampai di kota tujuan, langsung diangkut truk lagi, dikirim ke gudang penampungan kota tujuan, dari gudang disortir lagi, diangkut mobil lagi untuk dikirim ke gudang hub kecamatan. Setelah itu, barulah diangkut sepeda motor oleh kurir, untuk diantarkan ke rumah kita.

    Seluruh transportasi itu emang nggak pakai biaya?

    Saya menjelaskan ini biar kebayang, bahwa perpindahan paket dari kota A, ke kota B, itu butuh biaya. Jadi worth it kalau kita harus bayar ongkir.

    Selama ini, seluruh biaya pengiriman ini ditanggung oleh pihak shopee (di traktir). Jadi lu harus sadar, bahwa selama ini kita di TRAKTIR lohhh sama shopee.

    Namanya traktir, kan nggak terus terusan kan?

    Pemerintah aja makin kesini, subsidi BBM dikurangi terus. ia nggak? itu negara loh.

    Startup di Indonesia lagi susah

    Oke balik lagi ke topik.

    Kalaupun spekulasi saya benar, bahwa Shopee menciptakan Shopee Xpress untuk upaya menghilangkan kebiasaan gratis ongkir. Menurut saya sah sah saja. 

    Karena faktanya, saat ini bisnis startup lagi nggak baik baik aja, terutama di Indonesia. Banyak banget headline news tentang perusahaan startup yang tutup, dan yang masih jalan pun, banyak yang harus mem-PHK karyawannya. Karena di masa sulit seperti ini, perusahaan dituntut melakukan efisiensi dimana mana. Salah satunya ya di subsidi gratis ongkir ini.

    Untuk sekedar info, saya juga aktif sebagai seller di Shopee dan Tokopedia, dan saya sangat bersyukur, karena sudah dapet rejeki yang lumayan lah dari kedua marketplace ini. Saya sehari hari hidup dari hasil jualan di shopee dan tokopedia.

    Subsidi Gratis Ongkir dibebankan ke Seller

    Nah karena aktif sebagai seller, saya juga tau bahwa, sekarang di tokopedia ataupun di shopee, biaya subsidi gratis ongkir yang dinikmati pembeli, juga harus ditanggung oleh penjual (seller). Rata-rata saya perhatikan 10ribuan tiap transaksi.

    Dan sempat banyak beredar video-video tiktok, tentang keluhan para seller di shopee/tokopedia, karena mereka tidak tahu bahwa ada potongan biaya yang cukup besar dari tiap penjualan produknya (biaya subsidi ongkir).

    Video Seller Ngomel-ngomel :

    @andciu09

    #stitch with @Laura Siburian it will become hard for marketplace seller. get ready ! #tokopedia #shopee #seller #shopeeseller #biaya biaya tokopedia naik lagi biaya shopee naik lagi

    ♬ original sound – Andrew Ciu – Andrew Ciu
    https://www.tiktok.com/@renneayr/video/7173644603797622043

    Note : Selain dua video diatas, masih banyak lagi. Nggak mungkin saya masukin semua disini.

    Dan ini terjadi tidak hanya di shopee ya! di Tokopedia juga. ini saya kasih contoh penampakannya di Akun Tokopedia Seller saya. Saya coba kasih 2 capture contoh transaksi.

    Kalau saya, kebetulan banget keuntungan tiap produk / marginnya cukuplah, sehingga saat kena potongan biaya 10ribu/transaksi, saya masih oke.

    Tapi masalahnya, bagi para seller produk produk komoditi, atau produk yang saingannya banyak di marketplace, itu margin keuntungannya sedikit banget. bahkan ada yang dibawah 10ribu per produk. Sehingga banyak seller tidak menyadari dirinya rugi jutaan rupiah selama berbulan – bulan.

    Dimana marginnya cuman Rp5.000/barang, tapi saat ada orang yang beli produknya, seller malah kena biaya Rp10.000an. Bukannya untung, malah jadi rugi, karena minus Rp5.000 tiap ada yang beli produknya. Belum lagi ada biaya operasional dan gaji karyawan.

    Disatu sisi, kalau naikin harga produk, nggak ada yang beli, karena produk komoditi ini mudah banget di cari, karena pembeli bisa memfilter berdasarkan produk sejenis yang harganya paling murah.

    Nah sampai sekarang masih jadi dilema, bagi para seller di marketplace.

    Jadi menurut kamu gimana? kamu stuju nggak kalau budaya gratis ongkir di Indonesia lama lama akan dihilangkan?

    Salam

    Putu Adi.

  • Duh pusing! sekarang shopee sensor nama dan nomor HP pembeli

    Duh pusing! sekarang shopee sensor nama dan nomor HP pembeli

    Sumber Foto : punpro.com

    Shopee COD aja udah pusing

    Program Shopee COD aja, udah lumayan bikin pusing penjual (shopee seller), karena dikasus tertentu, ada memungkinkan barang yang udah dikirim ke alamat pembeli, harus balik lagi ke penjual. Karena ada pembeli tidak mau bayar, ataupun tidak mau terima barangnya (dengan alasan tertentu), sehingga ujung-ujungnya, barang harus dikembalikan ke penjual.

    https://youtube.com/shorts/oBdaRG5T3ZY?feature=share
    Video ini hanya ilustrasi, kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di shopee, tapi semua marketplace seperti tokopedia, lazada, dll. yang menyediakan sistem pembayaran COD.

    Padahal kita sebagai penjual, udah keluar biaya packing (kardus, plastik, lakban, kertas, termasuk ongkos karyawan), jadi udah capek-capek packing rapi-rapi, ehhh malah barang yang dipesen dibalikin lagi ke penjual.

    Masih mending kalau kondisinya utuh, tapi sering kali kondisi barang yang dikembalikan ini udah kondisinya penyak-penyok. Karena dikirim via kurir bolak balik.

    Barang yang udah penyak-penyok ini, kalau mau di jual lagi pun, nanti pembeli berikutnya bakal komplain. Sehingga sering kali di obral, atau memang sudah tidak bisa dijual sama sekali.

    Contact pembeli disensor, makin pusing!

    Tampilan Dashboard Shopee Seller, pada halaman rincian pesanan.

    Nah, belum selesai dengan dilema Shopee COD, sekarang (sejak 1 Agustus 2022) Shopee malah menyensor nama dan nomor HP pembeli. Memang tidak merugikan penjual secara material, tapi lebih ke proses packingnya yang jadi membingungkan dan menguras waktu.

    Bayangkan pesanan yang kita lihat di komputer, itu tanpa nama dan nomor tlp customer. Sehingga untuk mencocokan data pesanan di komputer, dan barang yang sedang kita packing, cara mencocokannya hanya bisa dengan nomor pesanan berupa angka.

    Sumber Foto : thebluesurge.com

    Kalau pakai nama kan mudah di cocokan. Tapi kalau nomor? susah banget. Ia kalau paketnya cuman satu dua, kalau puluhan gimana? apalagi ratusan? pusing kan? rentan banget sama salah kirim barang.

    karena sebelum paket dikirim ke kurir, kita kan harus re-check lagi kan? antara data di komputer (aplikasi Shopee Seller), dan paket yang telah di packing. Apakah sudah sesuai atau tidak. Ngecek satu satunya itu yang susah banget, karena pakai nomor, bukan nama, seperti di marketplace lain, seperti di Tokopedia misalnya.

    Belum lagi, workflow atau alur memproses pesanan di shopee itu harus klik tombol “Atur Pickup” terlebih dahulu, baru bisa kelihatan nomor resinya. Tapi ini nggak perlu saya jelasin lah, karena masalah nomor resi ini cuman bakal dialami oleh penjual yang menggunakan sistem pencatatan transaksi / POS (point of sales) diluar sistem shopee.

    Tampilan Dashboard Tokopedia Seller, nomor resi sudah muncul, tanpa perlu request pickup terlebih dahulu.

    Tapi ini perlu saya ceritakan juga, karena persoalan nomor resi ini tidak di alami di marketplace lain, seperti di tokopedia misalnya, yang nomor resi sudah langsung muncul sejak awal pesanan kita terima.

    Jadi sekarang, (khususnya saya pribadi ya) sebagai Seller di shopee, begitu ada pesanan masuk dari shopee, aduh udah kepikiran banget bingungnya saat packing.

    Tapi saya sebagai merchant, yang notabenenya hanya “numbang” jualan di Shopee, ya cuman bisa ngikut kebijakan dari sana aja. Nggak bisa ngapa-ngapain kan? Sehingga, saya sekarang lebih fokus cari solusinya aja, gimana caranya agar saya dan tim, bisa memproses pesanan dari shopee dengan mudah, efisien dan terhindar dari persoalan salah kirim barang.

    Alasan Shopee sensor contact pembeli

    alasan shopee sembunyikan kontak pembeli
    Sumber Foto : onlinejek.com

    Kalau saya perhatikan, shopee memang berusaha memanjakan seluruh pembelinya. Ibarat kata, pembeli adalah diatas segala-galanya. Shopee memanjakan para pembelinya dengan beragam keuntungan, tidak hanya tentang diskon, cashback, dan free ongkir, tapi juga kemudahan dan keamanan dalam berbelanja.

    Kalau dibaca dari beberapa sumber, berikut ini adalah alasan shopee menyensor contact dari para pembeli.

    1. Untuk privasi dan Keamanan data

    Shopee menyembunyikan nama dan nomor HP pembeli karena alasan yang sederhana. Yaitu, agar seller tidak bisa melihat data contact pembeli. ini dilakukan untuk menjaga privasi dan keamanan data pembeli. 

    Berikut adalah pernyataan resmi dari Sshopee, yang saya kutip dari CNN Indonesia.

    “Kami menyamarkan data pembeli untuk menjaga privasi dan memastikan keamanan data pengguna Shopee,” tulis Shopee Indonesia melalui keterangan resminya, Senin (8/8).

    Seperti yang kita tau, belakangan memang banyak oknum penipu, yang memanfaatkan marketplace (termasuk shopee) dalam mencari korbannya. Modusnya banyak, salah satunya, memanfaatkan nama dan nomor HP pembeli.

    Kamu bisa baca lebih lanjut di dokumen kebijakan privasi shopee, pada point 3.4, 

    2. Agar pembeli dan penjual tidak ngobrol diluar shopee

    Selain rentan terhadap resiko penipuan (oleh oknum penipu), Shopee juga mencegah penjual menghubungi pembeli ke nomor pribadinya. Karena memang tidak semua orang merasa nyaman, kalau tiba-tiba dihubungi oleh nomor baru, atau orang yang ia tidak kenal (termasuk telepon atau chat dari seller).

    Padahal, menurut pihak shopee, mereka sudah menyediakan fitur chat, yang bisa digunakan untuk berkomunikasi, antara pembeli dan penjual, dan begitu juga sebaliknya.

    Intinya, shopee melakukan semua ini, karena shopee tidak ingin terjadi masalah, yang melibatkan para pembelinya.

    Keamanan VS Kenyamanan

    Sumber Foto : theladders.com

    Kebetulan saya lulusan Informatika, jadi kami diajarkan juga bagaimana merancang sebuah sistem. Nah ada hal menarik dalam perancangan sebuah sistem. Disana kita akan menemukan sebuah dilema, bahwa keamanan selalu bertolak belakang dengan keamanan, begitu juga sebaliknya.

    Sistem yang dibuat dengan tingkat keamanan yang tinggi, pasti tidak nyaman di pakai user. Begitu juga sebaliknya. Sistem yang nyaman, selalu mengorbankan keamanan.

    Maka dalam perancangan sistem, komposisi terhadap keduanya haruslah seimbang. Karena dua duanya penting. baik keamanan, maupun kenyamanan.

    Kalau dilihat dari sudut pandang pembeli, maka kebijakan ini membuat keamanan bagi para pembeli.

    Tapi disatu sisi, kebijakan ini membuat para seller tidak nyaman, dalam mengelola pesanan yang masuk.

    Karena shopee lebih mengutamakan keamanan dan kenyamanan pembeli, maka penjual agak sedikit dikorbankan.

    Tapi semua ini dilakukan shopee untuk kebaikan bersama.

    Ya kita juga sebagai seller di shopee, gratis toh? ya udah lah, sibuk dikit nggak apa apa.

    Kebijakan VS kontradiktif

    Sumber Foto : personalexcellence.co

    Setelah dikeluarkannya kebijakan ini, banyak para Seller Shopee yang menulis pendapatnya di media sosial. Kalau dirangkum kurang lebih seperti ini.

    • Bagaimana dengan pembelian COD yang tidak diterima / tidak dibayar?
    • Pembeli tidak semuanya benar, ada juga yang nakal kan? kenapa seller selalu di anak tirikan?
    • Bagaimana jika kurir salah menempel label, sehingga kurir sulit menghubungi penerima?
    • Bagaimana nasib kami para seller, yang dari awal memang mengumpulkan database pelanggan mereka. Sekrang jadi engga bisa.

    Nah dari berbagai macam komentar seller, sebenarnya kalau dipikir – pikir, kita engga bisa berargumen apa apa, karena kalau kita melihat dari sudut pandang pembeli, kebijakan ini sangat menguntungkan para pembeli (menjaga keamanan dan kenyamanan pembeli). Jadi kita nggak bisa berargumen apa apa. Karena apa? karena kita (seller) cuman numpang aja di platform shopee. Bukan kita yang punya shopee.

    Nah ternyata untuk pihak kurir, nama dan nomor HP pembeli, disana masih kelihatan. Jadi nanti kurir akan mencetak label baru untuk tiap paket yang mereka kirimkan. Nah di label yang dicetak oleh kurir ini, disana sudah dilengkapi nama dan nomor HP pembeli. Agar jika terjadi masalah teknis dalam pengiriman barang, petugas kurir bisa menghubungi pembeli secara langsung.

    Kesulitannya yang saya alami pribadi

    Dengan disensornya nama dan nomor HP pembeli, saya sebagai merchant/seller di shopee, agak kesulitan dalam mengelola pesanan. Apalagi, bisnis online saya, menggunakan sistem pencatatan transaksi mirip seperti POS (point of sales), diluar sistem shopee.

    Karena saya tidak hanya jualan di shopee aja, tapi di berbagai platform marketplace yang populer di Indonesia, seperti tokopedia, bukalapak, lazada, blibli, termasuk shopee.

    Jadi saya menggunakan sistem sendiri, agar mudah mengelola seluruh pesanan yang masuk dari berbagai macam platform marketplace.

    Monitoring Penjualan

    Dari sistem saya ini, begitu ada pesanan masuk dari salah satu marketplace, maka data pesanannyadi salin ulang ke sistem ini, mulai dari data pelanggan, nama, nomor, dan alamat. Juga data pesanan, seperti produk apa yang dipesan, berapa banyak. Kemudian invoicenya pun itu di cetak dari sistem kami sendiri, tidak menggunakan invoice yang ada di sistem marketplace.

    Halaman utama aplikasi POS Wiki Kombucha

    Dengan dicatatnya data pesanan pelanggan di sistem sendiri, kami sebagai pebisnis online bisa mengelola sendiri data tersebut.

    Kita bisa melihat lokasi pelanggan kita ada di mana aja, tapi saya nggak bisa jelasin fungsinya apa, karena nanti panjang banget penjelasannya.

    Peta customer kami di beberapa daerah di Jakarta

    Kita juga bisa menginformasikan ke para pelanggan kita, saat ada promo dan penawaran menarik yang berkaitan dengan produk kita.

    Kita juga bisa dengan mudah memfilter, mana pelanggan kita dan mana yang bukan, ini saya butuhkan saat ada chat masuk untuk berkonsultasi terkait produk. Dari begitu chat yang masuk, saya bisa dengan mudah memprioritaskan pelanggan yang sudah pernah beli produk, dibandingkan yang bukan. Karena setiap pembeli kita save nomornya, sehingga chat yang masuk berisi nama, maka saya asumsikan itu adalah orang yang pernah membeli produk.

    Bersambung…

  • True Story : Ini alasan, kenapa kamu wajib membeli followers sosmed

    True Story : Ini alasan, kenapa kamu wajib membeli followers sosmed

    Sumber Foto : vergizmo.com

    Disclaimer : Semua yang saya tulis ini adalah opini pribadi, bersifat subjektif dan merupakan kesimpulan dari pengalaman saya sebagai freelance web developer, yang menghandle client dari beragam bidang dan profesi.

    Selain membantu membuat dan mengelola website mereka, untuk beberapa client, saya juga ikut membantu ngembangin akun sosial media mereka. Dan disanalah saya menemukan banyak hal yang menarik, salah satunya tentang fenomena “Beli Followers”.

    Karena menurut saya ini menarik, saya putuskan untuk share aja. Siapa tau bermanfaat untuk kalian.

    Tapi hal penting yang harus kamu perhatikan adalah, mungkin aja jenis akun sosmed yang lagi kamu bangun, berbeda dari kasus-kasus yang saya jumpai selama ini. Jadi jangan telan informasinya mentah-mentah. Gunakan artikel ini hanya sebagai wawasan saja.

    NB. Kamu bisa baca isinya, sesuai sub judul. Untuk menyimak hal-hal yang kiranya penting buat kamu. Karena ini adalah blog pengalaman pribadi, jadi saya memang sengaja bercerita panjang lebar, agar tidak kehilangan konteks.

    Baik, saya akan mulai bercerita dari fakta bahwa menaikan jumlah followers itu sulit.

    Naikin jumlah followers itu sulit

    Sumber Foto : openlylocal.com

    Apakah kamu, sedang merintis usaha, dan lagi proses ngenalin produk atau jasa kamu, di sosial media?

    Atau, kamu sedang melakukan personal branding, untuk memulai karir sebagai influencer, di sosial media?

    Atau mungkin, kamu lagi membangun fanbase, untuk calon penikmat karya-karya kamu di sosial media?

    Saya paham banget, gimana susahnya menaikan jumlah followers. terutama untuk akun baru, yang followersnya aja itu masih antara 50 sampai 100 followers.

    Berbeda dengan para kompetitor, yang followersnya sudah 5.000, 10.000, bahkan nggak sedikit yang sudah mencapai ratusan ribu.

    Dilihat dari angka followers, kalau dibandingin mereka, kok rasanya kita jauuuuh banget ketinggalan ya? 😅

    Kira kira apa ya rahasia mereka?, padahal semua akun baru, pasti dimulai dari angka 0 followers kan?

    Tapi kenapa followers mereka tumbuh begitu pesat, dalam waktu yang singkat?

    Rahasianya adalah, mereka beli followers!

    Terdengar seperti lelucon ya, tapi faktanya memang begitu, membeli followers adalah salah satu strategi yang digunakan oleh para bisnis owner, terutama di awal-awal mereka membuat akun sosial media.

    Eiittt… jangan komen yang aneh aneh dulu ya gaes, 🤪 silahkan simak artikel ini sampai habis. Nanti saya jelaskan kenapa saya bisa menyimpulkan seperti itu.

    Awal mula kenal istilah beli followers

    Saya baru tau kalau followers itu bisa dibeli, baru sejak Tahun 2019. Waktu itu banyak yang lagi ngomongin skena per-youtuban. Karena banyak nama – nama youtubers yang lagi naik daun, salah satunya adalah Atta Halilintar, yang khas dengan jargonnya “ahhh Siaaap!” 

    Selain ngomongin kesuksesannya, di kala itu juga ada gosip-gosip yang mengatakan bahwa, sebagian jumlah subscribersnya adalah subscribers bot yang dibeli dari jasa subscribers.

    Dasarnya adalah, terlihat dari jumlah subscribers dan jumlah views yang tidak sebanding. Anggap aja misalnya subscribersnya 18 juta, sedangkan viewers per videonya cuman 2-5juta aja.

    Tapi ini hanya perkiraan aja ya, saya lupa angka persisnya berapa waktu itu. Intinya nggak sebanding antara jumlah subscribers dan viewers per videonya. Sehingga muncul asumsi bahwa, subscribers Atta Halilintar di kala itu adalah subscribers bot (nggak real).

    Nah, waktu nongkrong sama temen-temen, kebetulan lagi ngomongin skena per-youtuban ini. Di bahaslah Atta Halilintar, youtubers dengan 18,5 juta subscribersnya itu (Tahun 2019).

    Kemudian salah satu teman saya nyeletuk,”Oh kan emang subscribers itu bisa dibeli” “Followers instagram juga bisa dibeli” katanya.

    Karena penasaran, akhirnya saya tanya-tanya ke dia, dan dia dengan semangat ngejelasin mulai dari belinya dimana, gimana cara kerjanya, berapa harganya, dan segala macemnya. 

    Dan itu pertama kali saya tau, kalau followers sosmed bisa dibeli.

    Tapi saya nggak tertarik untuk tau lebih dalam, apalagi menggunakan jasanya, karena memang saya nggak begitu setuju dengan beli followers/subscribers semacam ini.

    Saya anti beli followers (pada awalnya)

    Kebetulan saya orangnya idealis banget, pengennya melakukan sesuatu harus murni dari hasil kerja keras. Pokoknya anti banget yang namanya cheat/jalan pintas, apapun bentuknya.

    Termasuk “membeli followers sosial media”. Karena menurut saya, membeli followers itu curang, nggak keren, memalukan, nggak etis, pembohongan publik, mungkin juga berdosa, dll. Pokoknya konteksnya negatif aja di kepala saya. Dan saya nggak bakal pernah menggunakan jasa tersebut.

    Awalnya saya berfikir seperti itu. 😅

    Waktu itu saya masih menggunakan sosial media untuk seneng-seneng aja, belum ada pikiran untuk “dagang”, ataupun personal branding, atau apapun lah istilahnya itu.

    Yang pada intinya, saya pakai sosmed hanya untuk seneng-seneng aja, bukan untuk nyari uang disana.

    Sekali lagi, awalnya saya berfikir seperti itu. 😅

    Masuk ke skena Beli Followers, karena bantuin masalah client

    Nah seperti yang saya tulis di awal, bahwa saya juga adalah seorang freelance web developer. Dan ada salah satu client saya, tiba-tiba chat, konsultasi masalah beli followers. Kejadian ini sekitar pertengahan 2020.

    Pada waktu itu, saya masih belum tau banyak tentang jasa beli followers. Termasuk cara kerjanya. Dan bahkan, saya juga tidak tau gimana cara belinya. 😅

    Tapi sebagai konsultan, walaupun nggak paham, saya harus tetap menyimak, dan berusaha memahami kendala dari client. Sehingga, dengan begitu, di akhir nanti, saya bisa ngasih solusinya. Atau seenggaknya, bisa ngasih petunjuk lah, harus ngapain.

    Kronologinya :

    Client saya ini, sebut saja “Bunga”. Dia adalah seorang sales mobil merk terkenal, kebetulan dealernya di Denpasar. Kalau saya sebut merk mobilnya apa, pasti kalian tau.

    Tapi mohon maaf, saya nggak bisa sebut merknya, karena beliau masih kerja disana. Karena yang sedang kita bahas ini adalah “Beli Followers”, yang menurut sebagian orang masih menjadi hal yang tabu.

    Nah Mbak Bunga ini, kebetulan pesan websitenya di saya. Dan waktu itu kebetulan websitenya baru aja selesai dan serah terima. Karena webnya udah jadi, beliau juga pengen sekalian naikin jumlah followers instagramnya.

    Biar nanti saat mbak bunga mengiklankan websitenya di Google Ads, begitu ada yang ngeliat instagramnya, followersnya terlihat banyak. Dan harapannya terbangun kepercayaan dibenak customer.

    Nah cuman, rencana Mbak Bunga nggak berjalan lancar, dimana uangnya udah di tranfer, tapi followersnya belum nambah – nambah, sampai sekitar 2 harian.

    Karena kesel, mbak bunga marah – marah ke penjual followersnya, karena merasa dirinya ditipu. Tapi saat itu saya berusaha untuk nenangin Mbak Bunga, karena siapa tau aja memang lagi proses.

    Singkat cerita, di hari ke 3, mbak bunga ngabarin saya lagi. katanya followersnya sudah nambah.

    Dan sayapun ikut ngecek, ternyata benar. Dari yang awalnya 800 followers (kalau tidak salah), seketika menjadi 10.000an followers hanya dalam waktu kurang dari 1 jam.

    Fantastis kan? 😂 gilaaaa kami euforia banget. dan saya juga sempat terpancing pengen langsung beli juga tuh.

    Ehhhh tapi tunggu dulu. ternyata euforianya cuman sebentar. Karena kalau diperhatiin, jumlah followers instagramnya mbak bunga, makin lama makin berkurang. Dan jumlah pengurangannya sangat drastis.

    Singkat cerita, setelah kurang lebih 1 minggu, jumlah followers yang dari 10.000++ hampir kembali lagi ke jumlah semula, yaitu kurang lebih tinggal sisa 1.000an. (mungkin sekarang udah kembali ke 800).

    Dari pengalaman Mbak Bunga ini, akhirnya saya nggak sengaja jadi tau banyak tentang fenomena beli followers. Tidak hanya tentang belinya dimana, harganya berapa, istilah-istilah yang mereka pakai seperti followers indo, followers bule, followers bot, followers asli pasif, dll. Tapi saya juga mulai mempelajari bagaimana cara kerja si penjual followers ini.

    Ternyata banyak bisnis owner dan influencer pakai jasa beli followers

    Saya lupa persisnya kapan, tapi disatu titik akhirnya keadaan mengharuskan saya menggunakan akun sosmed untuk “jualan”. Dan masuklah saya lebih dalam ke dunia digital marketing.

    Disini saya mulai kenal banyak para bisnis owner, terpapar banyak strategi – strategi digital marketing, yang menjelaskan gimana cara memanfaatkan sosmed untuk “jualan”. Dari ilmu-ilmu digital marketing yang saya pelajari, akhirnya saya praktekan satu persatu. 

    Akhirnya saya menyadari bahwa, ternyata kalau ngembangin akun sosmed untuk kebutuhan bisnis (untuk jualan), tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi, daripada ngembangin akun sosmed pribadi.

    Kalau ngembangin akun pribadi, yang penting foto profil jelas, konten di feeds bagus, dan nggak ada yang aneh-aneh. Saat kita follow seseorang (yang se-level), biasanya bakal mudah untuk di follback.

    Apalagi saat kita mau rutin berinteraksi di akun mereka, mereka juga akan dengan senang hati berinteraksi di akun kita. Karena pada dasarnya, orang suka punya temen baru. Apalagi yang aktif nge-likes postingan mereka.

    Beda dengan akun yang kita buat untuk jualan, jauh lebih sulit dapetin interaksi dari orang. “Karena pada dasarnya, orang nggak suka dijualin”. Apalagi produk/jasa yang kita jual, nggak related sama mereka.

    Kenapa jumlah followers dan jumlah reaksi ini penting untuk akun jualan? Karena jauh sebelum ia ingin beli sesuatu dari kita, dua hal tersebut yang menjadi penilaian singkat, apakah si calon customer percaya pada akun tersebut atau engga.

    Pertama dia lihat berapa followersnya, kemudian bagaimana interaksi orang di tiap postingan.

    Mungkin dari kamu akan bilang “Ya, semuanya tergantung dari konten. Kalau kontennya bagus, pasti banyak yang nge-likes, comments dan share.”

    Oke katakanlah konten kita bagus, dan feeds kita rapi.

    Nah masalahnya adalah, akun yang baru dibuat, followersnya masih sangat sedikit. Disinilah inti masalahnya.

    Karena followers yang sedikit, runtutan kebelakangnya jadi banyak. yang mempengaruhi performa si akun tersebut.

    Yang saya maksud followers dikit itu, antara 50 – 500 followers.

    Dengan followers dikit, yang menjangkau akun/konten kita jadi sedikit.

    Dengan followers dikit, banyak orang yang ngira akun ini akun palsu.

    Dengan followers dikit, ada asumsi akun ini nggak serius, cuman iseng isengan aja.

    Dengan followers dikit, orang jadi ragu dan nggak percaya, untuk beli barang di kita.

    Dengan followers dikit, orang nggak menganggap akunmu penting.

    Jumlah followers itu, sangat mempengaruhi psikologi seseorang.

    Mungkin dari kamu juga bakal bilang lagi : “Oh nggak apa apa kok, biarpun followersnya dikit, tapi kalau produk yang dijual bagus dan dibutuhkan banget, pasti orang akan beli.”

    Masalahnya adalah, yang jualan produk/jasa tersebut bukan cuman akun kita (yang followersnya dikit ini).

    Tapi diluar sana, banyak akun lain yang jualan produk yang sama, tapi akunnya udah jadi. Followersnya banyak, barang yang dijual kualitasnya sama, pelayanannya bagus, ada diskonnya, reputasinya juga terbukti bagus dilihat dari reviews/testimoninya, dll.

    Beda dengan akun baru kita, yang followersnya cuman 50-100 misalnya, review/testimoni juga belum ada, belum bisa ngasih diskon, dll.

    Sekarang coba pikirkan dan jawab dengan jujur, jika akun baru yang followersnya cuman 100, kemudian disandingkan dengan akun kompetitor yang followers 5.000-10.000. Kira kira orang akan lebih percaya beli dimana?

    Secara umum, kita akan lebih percaya sama akun yang udah jadi tersebut kan?

    Saat kamu sebagai bisnis owner, yang lagi ngebangun sosial media dari 0, dilema ini pasti nyata banget kamu hadapi.

    Nah, karena kenyataannya seperti itu. Akhirnya saya mulai mikir, bener juga ya. Gimana kalau kita beli followers cukup diawal aja, paling engga minimal 1.000 aja deh. Itu udah cukup untuk memberi kesan bahwa, akun julan kita ini, emang akun yang serius jualan.

    Nah disini, saya sudah mulai punya ide untuk bikin layanan tambah followers sendiri. Ya, kamu nggak salah baca. Saya ingin buat layanan tambah followers sendiri. Sehingga hampir setiap hari, saya googling di forum-forum programming, tentang memanfaatkan Instagram API untuk membuat bot (program otomatis).

    Tapi sebelum masuk ke pembahasa itu, saya mau lanjutkan dulu cerita tentang “demand” atau melihat dari sudut pandang kebutuhan pasarnya seperti apa.

    Beli followers itu bukan curang, tapi bagian dari strategi dagang

    Yang awalnya saya skeptis, dan menolak praktek-praktek beli followers, akhirnya saya mulai melihat praktek beli followers sosmed ini, sebagai bagian dari strategi dagang.

    Kenapa begitu? karena salah satunya alasannya adalah, teman-teman saya, yang punya toko online, hampir semuanya pakai jasa beli followers.😆 Kenapa mereka pakai jasa beli followers? karena para kompetitor merekapun pakai. 😅 Kalau ia nggak ikutan beli followers, ya bakalan kalah bersaing dengan kompetitor mereka.

    Karena ini saya alami sendiri juga, bagaimana sulitnya menambah followers secara organik, khususnya untuk akun sosmed untuk jualan.

    Karena kalau kita mau jujur-jujuran, kita sendiripun terpengaruh kan? sama jumlah followers?

    Jumlah followers itu kan semacam “aksesoris perhiasan”, yang melekat pada brand/bisnis di sebuah akun sosmed. Tentu perhiasan ini tidak hanya satu, selain jumlah followers, juga harus di dukung dengan feeds yang bagus, bio yang menarik, dll.

    Kalau diibaratkan seseorang, aksesoris perhiasan itu seperti jam tangan yang ia pakai, pakaian yang ia pakai, sepatu, hingga ke merk hp yang ia pakai. Dengan melihat tampilan luar seseorang, kita sudah punya pandangan tersendiri kan terhadap seseorang itu? Akun sosmed juga gitu.

    Ya walaupun ada istilah “dont judge book by its cover”, kalau mau dagang, tolong quotes itu disingkirkan dulu. Karena kita lagi berbicara strategi jualan, jadi jangan minta customer untuk memahami kita.

    Jadi tidak bisa dipungkiri bahwa, Jumlah followers, sangat mempengaruhi psikologis calon customer kita. Dalam waktu per sekian detik, cukup dengan melihat jumlah followers aja, calon customer sudah bisa memutuskan, apakah ia yakin atau tidak, dengan akun brand/bisnis tersebut.

    Terus mungkin ada yang bilang, “Nggak apa apa dong, selama produknya bagus pasti bakal di beli juga kan?”

    Lah masalahnya, yang berbisnis tidak hanya kita sendiri. yang jualan produk yang sama di somed, tidak hanya kita sendiri.

    Calon customer, memilih untuk berhenti di satu akun untuk belanja, itu karena ia yakin sama akun tersebut. Kalau dia melihat akun tersebut kurang meyakinkan, maka dia dengan sangat mudah pindah ke akun lain.

    Bersambung…

    Ceritanya masih panjang. 😅👌

    harga beli followers instagram
    Sumber : belifollowers.id