Category: Pengembangan Diri

  • Apa Itu illusion Of Competence? Penyebab, Gejala, Dan Cara Mengatasinya

    Apa Itu illusion Of Competence? Penyebab, Gejala, Dan Cara Mengatasinya

    Kamu pernah nggak? ngerasa, ngertiiiiiiii banget sesuatu. Tapi pas disuruh ngejelasin? bingung. 🤣

    Dan akhirnya sadar, “Ternyata saya engga sepintar itu ya”. 😅

    Padahal kamu merasa ngertiiiiiii banget, ahliiiii banget, tapi setelah ditest, baru sadar, ternyata kamu sebenernya nggak ngerti-ngerti banget. 😅

    Nah, fenomena ini disebut “Illusion Of Competence”. atau dalam bahasa indonesianya, disebut “ilusi kompetensi”.

    Nah kalau kamu punya kesadaran, atau menyadari kalau diri kamu lagi mengalami ilusi kompetensi ini. lalu punya inisiatif untuk mengatasi hal tersebut, naaaah berarti itu pertanda baik, itu tandanya kamu orang yang dewasa, kamu punya growth mindset, atau mindset yang bertumbuh. Karena tau itu tidak baik, dan ingin merubahnya.

    Tapi nyatanya, diluar sana, banyak orang yang nggak sadar-sadar loh!, kalau dia itu sebenernya mengalami ilusi kompetensi.

    Kenapa ini penting untuk kita bahas? karena kalau “ilusi kompetensi” ini tetep kamu pelihara di diri kamu. Maka ini bahaya. Tidak hanya membahayakan diri kamu sendiri, tapi ini juga bisa merugikan orang lain. 

    Kalau bahasa di tongkrongan, biasanya ini tuh disebut dengan istilah “Sok tau”… atau pelakunya disebut “Orang sotoy atau sok tau…” nah sok tau ini, cikal bakalnya, yaaaaa “Illusion Of Competence”.

    Karena orang-orang yang sok tau itu, sering kali nggak sadar, kalau dirinya itu, sok tau!

    Contoh Ilusi kompetensi Dalam Kehidupan Sehari-hari

    Nah saya coba kasih contoh kasus ilusi kompetensi yang paling simpel, dikehidupan kita sehari-hari, misalnya :

    • Sebelum ujian, kamu ngerasa udah menguasai materi, tapi pas ujian kamu nggak bisa jawab apa apa.
    • Sebelum interview kerja, berangkat dari rumah, ngerasa udah ngusai semua pertanyaan interview. tapi begitu saat di interview, ngang… ngeng… ngong… 😂 sulit jawab pertanyaan-pertanyaan dari pewawancara.
    • Saat nyusun materi presentasi, wihhh percaya diri..! si paling ngerti lah pokoknya, tapi pas saatnya presentasi? bingung, pusing, ngeblank.

    Seperti prinsip yang kita bahas di artikel sebelumnya : Apa itu belajar? definisi belajar, ciri belajar, ilusi belajar, tujuan belajar

    Ciri ciri orang yang paham sesuatu, adalah mampu menjelaskan apa yang ia pahami.

    Kalau kamu ngerasa paham sesuatu, tapi pas disuruh menjelaskan, bingung.

    Itu artinya kamu tidak paham.

    Nah ngerasa paham, padahal sebenarnya engga paham, itulah disebut “Illusion Of Competence” atau ilusi kompetensi.

    Ilusi Kompetensi Hal Yang Wajar, Semua Pernah Mengalaminya 

    Tapi jangan kuatir, Ilusi kompetensi ini, umum banget kok dialami oleh banyak orang. Saya pribadi, juga mengalami (nanti saya ceritain), teman – teman saya juga mengalami, kalau kamu gimana? pernah nggak ngalamin?, pasti rata – rata pernah ya. 😁

    Yang penting adalah menyadari, dan punya inisiatif untuk menghilangkan kecendrungan ini, dari diri kita.

    Nah pertanyaannya sekarang,

    • Apa yang menyebabkan ilusi ini terjadi?
    • Gimana caranya kita tau, kalau kita sedang berada di situasi ini?
    • Dan cara mengatasinya gimana?

    Ilusi Kompetensi Harus diatasi, Karena Bisa Merugikan

    Kalau dari sudut pandang saya, yang sudah berkali-kali, mengalami ilusi ini. Menurut saya, hal ini harus diatasi. Kenapa? karena ilusi kompetensi ini, punya dampak negatif.

    Karena dampak negatifnya tidak ke diri sendiri aja, tapi juga bisa merugikan orang lain. 

    Bahkan bisa berakibat sangat fatal.

    Kalau ilusi ini dipelihara terus, makin lama, bisa aja kamu akan terjebak di situasi, dimana kamu akhirnya melakukan hal, yang sebetulnya diluar kapasitas kamu.

    Sebetulnya, ilusi ini kalau di pendam di pikiran aja, ya nggak masalah. Tapi akan jadi masalah, kalau ilusi ini di ekspresikan.

    a. Merugikan diri sendiri

    Biasanya ilusi kompetensi ini, bentuknya itu misalnya : Kamu lagi ngobrolin topik yang berat, biar keliatan pinter, di depan teman-teman di tongkrongan.

    Ehh celakanya, ternyata teman kamu lebih paham, topik yang sedang kamu obrolin ini. Sedangkan, yang kamu obrolin tadi, banyak kelirunya. Begitu ditanya balik atau di belokin dikit obrolannya sama temen kamu, kamu jadi bingung, kehabisan kata-kata.

    Kelihatan banget kamu cuman pengen terlihat pinter, ngomongin hal berat, tapi sebenernya nggak paham-paham amat.

    Di situasi seperti ini, teman-teman kamu akan menganggap, kamu orang yang annoying, sotoy (sok tau). Akhirnya kamu kehilangan kepercayaan mereka, dan kamu di label orang yang sotoy atau annoying tadi.

    Niatnya biar dapet respect, ehh malah dijauhi temen.

    Sedih banget nggak sih?

    b. Merugikan orang lain

    Misalnya, seorang pemimpin perusahaan, lalu mengambil keputusan penting, dengan ilusi kompetensi. Dia pikir dia punya kapasitas, padahal sebenarnya engga. Padahal keputusannya itu salah. Karena keputusannya salah, perusahaannya rugi, orang-orang akhirnya di PHK.

    Seorang Manajer investasi, dia merasa dirinya kompeten dan pinter, dia taruh uang orang di sebuah instrumen investasi yang sebenernya nggak masuk akal. udah dikasih tau sama temen-temennya, itu ga masuk akal, dia tetap nggak mau dengerin saran temennya, karena ngerasa dirinya lebih pinter. Lalu ternyata beneran lost, uang para investor hilang.

    Seorang kepala keluarga yang buruk dalam mengelola keuangan keluarga. Misalnya, karena dia merasa pintar, akhirnya dia salah mengambil keputusan dalam mengelola keuangan keluarganya, misalnya berinvestasi di tempat yang salah, mendanai usaha yang kurang tepat, ataupun bisa juga mengambil kredit atau hutang di bank, yang sebetulnya tidak mampu ia cicil tiap bulannya. Sehingga semua anggota keluarga terdampak dan ikut menanggung beban hutang tersebut.

    Seorang dokter yang melakukan malpraktik, karena berani mengambil prosedur medis yang rumit, yang sebenarnya diluar kapasitasnya, yang akhirnya membahayakan dan merugikan kesehatan pasien.

    Masih banyak contoh lainnya, seperti orang yang ngaku bisa nyetir, padahal tidak. akhirnya menjadi penyebab kecelakaan. dll

    Penyebab Illusion Of Competence

    Ini bisa terjadi, karena sistem kerja otak kita unik banget. Saat kita beraktifitas sehari-hari, otak mengelola segala informasi yang diterima dari seluruh panca indra kita, disimpan dengan dua mekanisme yang berbeda, short term memory & long term memory.

    Seperti namanya, Short term memory adalah ingatan jangka pendek, sedangkan Long term memory adalah ingatan jangka panjang.

    Untuk aktivitas biasa, yang sekali lewat aja, akan tersimpan di Short term memory

    Untuk aktivitas yang dianggap penting, apalagi ada repetisinya, yang dilakukan berulang-ulang, akan tersimpan di Long term memory.

    a. Long term memory

    Secara default, otak kita di setting, berada di mode Short term memory.
    Tapi saat kamu nyiapin diri, untuk belajar sesuatu. Kamu duduk tenang, fokus, dan penuh kesadaran bahwa kamu akan belajar sesuatu, maka otak kamu merespon, dan mengaktifkan mode Long term memory, dan membuka akses ke penyimpanan jangka panjang.

    Itu kenapa, agama nyuruh kita sebelum belajar, itu berdoa dulu.

    Karena doa memberikan sugesti ke otak, “Oh oke, sekarang kita lagi belajar nih, waktunya kita buka akses ke Long term memory”

    Kemudian akses ke Long term memory terbuka. Sehingga saat diisi informasi, maka informasi itu bisa diingat dalam jangka waktu yang panjang.

    Selain doa, nanti ada juga tips lainnya untuk ngebuka akses ke Long term memory. Sabar ya.

    b. Short term memory

    Nah Illustration of competence, terjadinya karena, kamu belajar hal baru, disaat otak kamu masih di mode Short term memory. Belajar sesuatu, tapi sebenernya lagi nggak pengen belajar.

    Contoh :

    • Nggak sengaja liat konten edukatif di sosmed, dan kamu nggak sengaja nyimak, sehingga informasi tersebut disimpan di short term memory, sehingga kamu merasa tau, tapi sebenernya kamu tidak paham
    • Membaca buku hanya untuk mengisi waktu luang, bukan sedang lagi membutuhkan wawasan yang ada pada buku tersebut
    • Belajar sesuatu, saat lagi males belajar

    Cara Menguji Apakah Kita Dalam Ilusi Kompetensi

    a. Menjelaskan ke orang lain

    Disaat kamu mengklaim diri kamu ahli dibidang tertentu, coba jelaskan konsep atau hal tersebut ke orang lain. Kalau kamu mampu menjelaskannya dengan lancar, dengan bahasa yang sederhana, sehingga orang lain mudah memahami, apa yang sedang kamu jelaskan, itu tanda kalau kamu benar-benar memahami hal tersebut. Tapi kalau tidak, ya bisa jadi kamu mengalami ilusi kompetensi.

    b. Mempraktekannya langsung

    Karena ada beberapa orang, yang sulit menjelaskan isi kepalanya, tapi sebenarnya dia paham. Nah cara lain yang bisa kamu lakukan untuk mem-validasinya, adalah dengan mempraktekannya langsung. Jika kamu mampu mewujudkannya langsung konsep/teori tersebut kedalam wujud nyata, maka itu juga bisa memberikan indikasi, kalau kamu benar-benar memahami konsep tersebut. Tapi kalau tidak, ya bisa jadi kamu mengalami ilusi kompetensi.

    Cara mengatasinya

    a. Mindset

    Miliki mindset, atau kesadaran bahwa “ilusi kompetensi” ini ada, dan banyak orang mengalaminya. Dengan memiliki kesadaran ini, kamu akan menjadi lebih terbuka, dan selalu mengukur pemahaman kamu tentang suatu konsep atau topik. Dengan mengevaluasi diri secara kritis dan jujur, dan catat hal-hal di mana kamu merasa “mungkin” mengalami ilusi kompetensi.

    b. Berdoa sebelum belajar

    Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, dimana yang menyebabkan ilusi kompetensi ini terjadi adalah karena informasi yang kita simak tersimpan di memory jangka pendek. Dengan berdoa, kita mensugesti otak kita agar membuka memory jangka panjang.

    c. Validasi

    Kamu bisa berdiskusi dengan orang lain, yang sudah berkecimpung dibidang tersebut. Dan tidak hanya ngobrol satu arah, yang hanya untuk membenarkan pengetahuan kamu saja, tapi juga kamu harus meminta feedback, agar terjadi komunikasi dua arah, sehingga kamu mengetahui kompetensi kamu sedalam apa.

    d. Belajar dengan metode

    Banyak orang yang salah memahami, mereka kira membaca itu, sama dengan belajar. Padalah, kalau kita membaca, tapi tidak mampu memahami isinya, ya itu bukan belajar namanya, itu cuman baca. Belajar adalah perubahan status, dari yang awalnya kita tidak tau, menjadi tau, dari tau, menjadi paham. Dan untuk belajar hal baru, tidak hanya lewat baca aja, banyak cara untuk belajar. Yang penting, kita berhasil memahami sesuatu, yang awalnya kita tidak tau. Nah itu yang disebut belajar.

    Nah belajar itu, ada caranya, ada tahap-tahapnya. Yang akan kita pelajari lebih dalam di artikel berikutnya. Dari banyak metode belajar, menurut saya pribadi, salah satu metode belajar yang sangat mudah di terapkan dalam kehidupan sehari hari adalah Feynman Technique.

    Nah nanti akan kita bahas lebih mendalam di artikel berikutnya. Sabar ya!

    Semoga bermanfaat.

    Salam

    Putu Adi.

  • Apa itu belajar? definisi belajar, ciri belajar, ilusi belajar, tujuan belajar

    Apa itu belajar? definisi belajar, ciri belajar, ilusi belajar, tujuan belajar

    Kalau selama ini kamu pikir, baca buku = belajar, kamu salah besar. Faktanya baca buku, tidak sama dengan belajar.

    Tulisan ini merupakan salah satu konten di playlist channel youtube saya, nama playlistnya “Belajar Cara Belajar” Dan ini merupakan episode ke 1.

    Apa itu belajar?

    Membaca, mengikuti kelas, mengikuti seminar, dengerin dosen ngomong, dan seterusnya… semua itu adalah proses belajarnya. Dengan cara itu, harapannya kita bisa belajar sesuatu.

    Karena baca buku, itu belum tentu belajar loh.

    Belajar, adalah, ketika kita, mengalami perubahan, dari yang awalnya tidak tau, menjadi tau, dan dari tau, menjadi paham.

    Perubahan status dari tidak tau menjadi paham inilah, yang disebut belajar.

    Karena saat kita baca buku, tapi tidak mampu memahami isinya, itu bukan belajar namanya, tapi baca.

    Baca tidak sama dengan belajar.

    Karena baca, adalah proses belajarnya.

    Sedangkan belajar, adalah hasil dari baca.

    ketika kita mendapatkan pemahaman baru.

    Nah kalau dalam bahasa inggris, lebih mudah dipahami, karena Study dan Learn, itu berbeda pemahamannya.

    Study = proses

    Learn = hasil

    Nah belajar yang kita bahas disini, bukanlah belajar dalam konteks akademis. Melainkan dalam konteks pengembangan diri, bisa di dunia profesi, maupun di kehidupan kita sehari-hari.

    Ciri ciri belajar 

    Seperti prinsip tadi, belajar adalah perubahan status, dari tidak tau menjadi paham.

    Ciri-ciri orang, yang habis belajar sesuatu, adalah mampu menjelaskan apa yang sudah ia pelajari.

    Contoh 1 : 

    Pernah nggak ngeliat orang, yang mengalami musibah, lalu setelah semua itu lewat, terus dia ngomong “Wah gua belajar banyak dari kejadian ini….” abis itu biasanya dia bakal cerita panjang tuh….

    Contoh 2 : 

    Atau, lagi baca sesuatu, “Ooooo gini ya ternyata, gua baru tau…” nah itu ciri ciri bahwa kamu sedang belajar sesuatu.

    Kan biasa gitu ya? saat kita baru paham sesuatu, ekspresi kita. Oooo gitu…. 

    biasanya disebut juga dengan istilah “aha moment”.

    Belajar itu adalah tentang mendapatkan pemahaman, sampai sampai kamu merasakan pemahaman tersebut.

    Perasaannya menyenangkan, ada rasa penasaran “ada aha moment apa lagi ya?”, rasanya waktu berjalan cepat, pokoknya kamu sangat menikmati prosesnya. Kamu melakukannya karena bukan disuruh, dorongannya dari diri kamu sendiri.

    Itu ciri ciri kamu lagi belajar.

    Ngomongin aha moment, misalnya pas lagi baca, tapi nggak ada aha momentnya, gimana dong?

    Bisa jadi, karena emang bukunya jelek (yang mana kemungkinannya sangat kecil)

    Atau, bukunya emang bagus, tapi kitanya yang nggak punya penalaran yang baik, sehingga tidak mampu melihat informasi yang berharga di halaman sebuah buku.

    Ketidakmampuan penalaran yang baik, juga sangat dipengaruhi oleh pemilihan topik untuk dipelajari.

    Di episode lainnya, nanti akan dibahas juga cara mengatasi kesulitan dalam proses belajar.

    Ilusi belajar

    Walaupun kamu baca buku tiap hari, tapi kalau saat baca nggak ada aha momentnya, biasanya cepat lupa tuh, sama apa yang sudah dibaca.

    Kalau “cara belajar” kamu benar, kamu akan mudah mendapatkan aha moment saat proses belajar.

    Karena belajar itu ada caranya, agar kita mampu memahami sesuatu secara mendalam.

    Caranya gimana?, ikuti semua konten “Belajar Cara Belajar”, klik playlist nya di deskripsi.

    tonton episodenya secara berurutan, nanti kamu akan paham.

    Mungkin ada yang bilang “buku yang saya baca bertahun-tahun lalu, masih nempel kok di kepala saya sampai sekarang”

    Oh bagus! berarti itu tanda, kalau cara belajar kamu bener. sehingga pemahaman kamu dalam.

    Tapi, hati-hati juga nih, ada sebuah istilah bernama “Illusion Of Competence”. Sebuah ilusi di pikiran kita, dimana kita merasa diri kita “paham”, hanya karena kita sudah pernah membacanya, pernah denger, pernah liat, Tapi kalau disuruh ngejelasin, bingung.

    Karena prinsipnya gini,

    Kalau kamu tidak mampu menjelaskan apa yang sudah kamu pelajari, berarti itu tanda kalau kamu tidak paham.

    Hari ini, banyak banget orang yang mengalami ilusi ini. Karena overdosis informasi dari sosial media. Merasa dirinya belajar banyak hal dari sosmed. dan merasa pintar. Padahal itu cuman ilusi dipikirannya aja.

    Hanya sekedar tahu, tapi sebenarnya tidak paham.

    Nah untuk topik Illusion Of Competence, akan dibahas khusus di episode 2, episode berikutnya. Bisa klik di kanan atas, atau cek di deskripsi.

    Tujuan Belajar

    Dulu waktu kecil, waktu masih tinggal di desa, sering banget denger kata-kata.

    Udahlahhh.. ngapain belajar terus sih?, mau ganti presiden kamu (katanya)? atau,

    Spesifik untuk yang perempuan biasanya, ngapain sekolah tinggi-tinggi, ujung2nya juga ngurus dapur, nyapu rumah, ngurusin anak.

    Ya walaupun itu konteksnya bercanda ya.

    Tapi, nyatanya. banyak banget orang – orang, begitu lulus sekolah atau kuliah, dia berhenti belajar.

    Ada begitu banyak alasan saintifik, mengapa sebaiknya kita tidak pernah berhenti belajar seumur hidup.

    Salah satu alasannya, agar kita tetap relevan dengan zaman, karena dunia terus bergerak maju. Teknologi baru terus, cara manusia hidup, berubah terus.

    Jadi, dengan terus belajar hal-hal baru, itu adalah salah satu upaya kita, untuk bertahan hidup di jaman sekarang.

    Karena dengan terus belajar, pikiran kita jadi tetap tajam, wawasan kita semakin luas. Sehingga kita bisa selalu selamat dari perubahan. Bijak dalam mengambil keputusan, menjaga kualitas diri sehingga selalu di hormati, dan banyak banget manfaat ketika kita menjadi orang yang ber-ilmu.

    Dengan punya knowledge dan skill yang terus di upgrade, selamanya kita akan tetap dibutuhkan. Baik itu dilingkungan keluarga, dilingkungan kerja, dan dilingkungan masyarakat.

    Karena momen yang paling menyedihkan, adalah ketika kita sudah tidak dibutuhkan lagi.

    Maka dari itu, jangan pernah berhenti belajar, karena knowledge dan skill harus terus di upgrade, agar selalu relevan dengan zaman.

    Di episode berikutnya, kita akan bahas sebuah fenomena bernama “Illusion Of Competence”, sebuah ilusi yang dirasakan seseorang, yang mengira dirinya “pinter” padahal sebenarnya tidak. Salah satu penyebabnya, karena mengkonsumsi konten sosial media, terlalu banyak.

    Semoga bermanfaat.

    Salam,

    Putu Adi.

  • Cara meningkatkan konsentrasi dan motivasi belajar, sehingga mampu memahami sesuatu lebih dalam

    Cara meningkatkan konsentrasi dan motivasi belajar, sehingga mampu memahami sesuatu lebih dalam

    Kamu pernah nggak sih? kesulitan belajar dan memahami sesuatu? baik itu lewat membaca, ataupun mendengarkan penjelasan seseorang. Padahal, sudah nyimak sampai habis, tapi setelah beberapa jam kemudian, langsung lupa. Nggak ada yang nempel di otak. Jangankan paham, ingat aja engga. Disatu sisi, kamu dituntut untuk harus menguasai hal yang sedang kamu pelajari tersebut.

    Lalu gimana cara mempelajari sesuatu, agar tidak hanya sekedar hafal, tapi juga kita mampu memahaminya dengan mendalam?

    Kita bisa gunakan teknik belajar ala Feynman, yaitu Learning by Teaching. (Belajar dengan cara mengajar).


    Quotes : 

    If you want to understand something well, explain it!

    Jika kamu ingin memahami suatu hal dengan baik, maka cobalah untuk menjelaskannya.

    Richard Feynman

    Sebelum memulainya, hal yang paling penting kamu lakukan adalah, miliki mindset bahwa, topik yang sedang kamu pelajari ini, nantinya akan kamu jelaskan kembali ke orang lain.

    Belajar itu jangan asal menghafal, tapi berusahalah memahami konteksnya.

    Secara persepsi umum, orang yang berdiri di depan dan menjelaskan sesuatu ke orang lain (seperti guru ke murid, dosen ke mahasiswa, CEO ke karyawan, dll), maka persepsi secara umum, orang yang sedang menjelaskan itu punya pemahaman lebih dalam terkait topik tersebut, dibandingkan orang yang sedang dijelaskan.

    Berdasarkan itu, belajar menggunakan metode Feynman ini, bikin kita jadi berupaya lebih, untuk memahami hal tersebut secara mendalam, sebelum kita menjelaskan ke orang lain.

    Karena pasti harapannya, setelah kita jelaskan, orang lain akan mudah memahaminya, dan jika ada pertanyaan pun dari mereka, kita sebagai pembicara mampu menjawabnya dengan baik.

    Belajar sesuatu dengan beban seperti itu, memaksa kita mempelajari sebuah topik secara mendalam, hingga ke akar-akarnya. Belajarpun jadi punya motivasi, dan akan jauh lebih fokus.

    Step by stepnya : 

    • Tentukan topik yang sedang ingin kamu pelajari
    • Pelajari dari beberapa sumber
    • Buat catatan belajarmu
    • Dari catatan itu, cobalah buat rangkumannya, lalu coba jelaskan di depan kaca, seakan-akan kamu sedang mengajar muridmu. Atau kamu bisa ambil smartphonemu, rekam kamu sedang bicara, done.

    Dari sana kita akan tahu, bagian-bagian mana yang mampu kita jelaskan dengan lancar, dan bagian-bagian mana yang masih sulit kamu jelaskan,, Lakukan improvement, belajar ulang hal yang belum kamu pahami tadi, catat, lalu coba ajarkan lagi. Sampai kamu benar – benar bisa menjelaskan seluruh rangkuman belajarmu itu dengan fasih.

    Belajar hanya dengan membaca dan menyimak, kita akan menjadi cukup paham.

    Belajar sambil mencatat, kita akan jadi lebih ingat.

    Belajar sambil menulis dan berupaya menjelaskannya ke orang lain, kita akan ingat dan paham lebih dalam.

    Metode Ini cocok banget diterapkan, oleh orang orang yang ingin menjadi ahli di bidang tertentu.

    Apapun bidang yang ingin kamu dalami, coba gunakan metode ini untuk belajar. Karena dapat membantumu termotivasi dan fokus selama belajar.

    Jika kamu konsisten belajar dengan metode ini, maka kamu akan menjadi seorang expert di bidang yang sedang kamu dalami tersebut, relatif lebih cepat.

    Intinya mempelajari satu hal yang dalam, dalam kurun waktu tertentu, sampai akhirnya menjadi seorang expert disana.

  • Mindset Cara Memulai Channel Youtube Dari Nol (Blog Dokumenter)

    Mindset Cara Memulai Channel Youtube Dari Nol (Blog Dokumenter)

    Ini bukan tutorial yang menjelaskan klik ini, klik itu,… bukan tutorial teknis. Tapi lebih ke arah mindset. Pola pikir apa, yang harus kita tanamkan di kepala kita, agar wacana membuat channel youtube, tidak hanya sekedar wacana belaka, tapi benar benar terealisasi dan konsisten mengupload video pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

    Kenapa memulai channel youtube itu sulit?

    Banyak orang-orang yang bertalenta, yang pengen bikin channel youtube, tapi nggak mulai-mulai. Bukan karena tidak bisa membuat channel youtube, bukan juga karena tidak bisa bikin video, bukan itu masalahnya. Tapi karena dihalangi oleh mindsetnya.

    Kebanyakan orang, terlalu banyak mikir, terlalu banyak pertimbangan, bagaimana nanti kalau begini, bagaimana nanti kalau begitu. Takut hasilnya jelek, takut nggak ada yang nonton, dll. Ditambah lagi sifat perfeksionis, harus punya kamera bagus dulu, harus punya laptop bagus dulu, harus punya studio yang proper dulu. waduh!  Akhirnya nggak mulai-mulai.

    Nah sejujurnya, saya adalah salah satu orang yang seperti ini. hehehhe

    Maka dari itu, artikel ini adalah bentuk komitmen saya, dalam rangka mewujudkan channel youtube pertama saya.

    Artikel ini adalah dokumentasi eksperimen

    Disini akan saya dokumentasikan semuanya, mulai dari ilmu-ilmu yang saya pelajari dari beberapa sumber, kemudian bagaimana saya mempraktekannya, dan bagaimana hasilnya. 

    Intinya, artikel ini adalah dokumentasi perjalanan saya membangun channel youtube dari nol, hingga berhasil.

    Saya akan mengatakan diri saya berhasil membangun channel youtube, disaat saya sudah berhasil mendapatkan penghasilan dari youtube, baik dari google adsense, ataupun dari sumber lainnya, seperti hasil dari jualan produk, affiliate program, endorse, dll.

    Jadi tolak ukur keberhasilannya adalah penghasilan.

    Ini semua untuk upaya pengembangan diri

    Walaupun “tujuan akhirnya” adalah ujung-ujungnya uang, Tapi “tujuan saya memulai” channel youtube, bukanlah uang. Tapi lebih kepada, upaya pengembangan diri.

    Karena saya pernah berada di fase dimana, saya merasa diri saya pintar, saya merasa diri saya hebat, punya banyak ide-ide cemerlang, dan seterusnya… Tapi ternyata semua itu semu! alias tidak nyata.

    Karena semua itu hanya ada di dalam pikiran saya aja. Sehingga sepintar apapun kita, sehebat apa kita, secemerlang apapun ide-ide kita,… Kalau tidak bisa diwujudkan, dan tidak ada manfaatnya untuk orang lain, yaaaaa… itu semua tidak ada gunanya sih.

    Nah lewat channel youtube ini, nantinya segala hal yang saya tau, akan saya bagikan, sehingga moga-moga aja bisa bermanfaat untuk orang banyak.

    Proses pengembangan channel youtube

    Baiklah, di dalam artikel dokumentasi ini, tiap levelnya, akan melalui 3 fase ini : 

    1. Teori

    Bagian dimana saya akan pelajari teori-teori dasar yang harus saya tau, sebelum membuat channel youtube. Menurut saya ini bagian yang penting, karena dengan tau teori-teorinya, kita akan melewati proses-proses dengan lebih efisien. 

    1. Praktek

    Setelah tau teorinya apa, langsung di praktekan. Dan saya yakin, nanti saya pasti melakukan beberapa kesalahan, dan hasilnya pun tidak langsung bagus, dan ada norak-noraknya dikit, tapi mohon dimaklumi, karena ini masih proses.

    1. Hasil

    Tiap kali mempraktekan teori baru, nanti kita lihat sama sama, bagaimana hasilnya. Apakah berhasil, apakah gagal. Jika berhasil syukur, jika gagal kita cari solusinya.

    Sehingga akan ketahuan, teori mana yang berhasil, teori mana yang tidak. Karena tiap orang, pada akhirnya punya caranya masing-masing. Apa yang berhasil di orang lain, belum tentu berhasil juga di kita kan? begitu juga sebaliknya.

    Untuk tau mana yang berhasil atau tidak, ya dengan cara di coba.

    Framework : Cara Mudah Memulai Channel Youtube

    Framework ini saya dapatkan dari seorang youtubers, dari London inggris bernama “Ali Abdaal”. Saat ini channel youtubenya sudah memiliki 3,5 juta subscribers, dan kontennya seputar cara menghasilkan uang dari internet.

    Disalah satu videonya, beliau menjelaskan framework Cara Memulai Channel YouTube untuk pemula. Sangat sederhana, tapi langsung to the point.

    Menurut beliau, ada 3 level yang harus kita lalui untuk memulai channel youtube.

    Level 1 : Goalnya adalah memulai semuanya dengan mengupload video pertama, lalu video kedua, ketiga, dan seterusnya. Jelek nggak apa apa, asalkan kita sudah memulai.

    Level 2 : Goalnya adalah untuk menjadi jauh lebih bagus dari beberapa video sebelumnya. Mulai mempertimbangkan hal-hal teknis agar hasil video kita menjadi jauh lebih bagus.

    Level 3 : Goalnya adalah untuk menjadi lebih besar, selain bekerja keras, kita juga harus mulai bekerja cerdas. Sehingga channel yang kita bangun tidak hanya sekedar channel youtube, tapi sudah menjadi mesin uang semi otomatis.

    Level 1 : Agar semuanya dimulai

    Di level ini, PR utama kita hanyalah melawan rasa takut, lalu mulai bikin video pertama, lalu menguploadnya ke youtube. Video pertama udah pasti jelek, gimana gugupnya berbicara di kamera, buruknya kualitas editing, dll. Tapi saat kita berhasil menerobos tembok pertama ini, kita akan mulai tau bahwa “Oh, ternyata nggak buruk buruk amat….” apa yang kurang di tambah, apa yang udah bagus, makin ditingkatkan lagi.

    • Upload video percobaan dengan mode private

    Ambil HP, lalu rekam diri kamu yang menjelaskan tentang channel youtube ini, kenalkan diri siapa kamu, apa yang kamu lakukan di channel ini, dan seterusnya.

    Lalu upload video dengan mode private, sehingga tidak ada satu orangpun yang melihat videonya. Yang penting kita ngerasain bahwa ternyata upload video ke youtube tidak sulit. 

    • Upload video berikutnya dengan mode publik

    Bikin video yang kedua, lalu upload dengan mode publik. Dari sini kita akan tau, tidak ada bedanya antara mengupload video mode private dan publik, karena tidak ada satupun orang yang ngeliat video kita. Karena subscribers masih nol kan? dan selama tidak kita share link video tersebut ke orang lain, maka tak ada yang peduli.

    Dengan melewati dua tahap ini saja, rasa takut dan kuatir kita akan mulai bisa teratasi, dan lama lama, ketakutan itu semakin hilang karena kita sudah mulai terbiasa.

    Kamu tidak harus membuat video dengan memperlihatkan wajahmu, tidak harus. Kamu bisa bikin video tanpa memperlihatkan wajah sama sekali. Cukup dengan suara saja sudah cukup.

    Karena banyak channel youtube besar, hingga sekarang tidak pernah menampilkan wajahnya. Tapi sudah punya jutaan subscribers dan menghasilkan banyak uang.

    Bahkan kalau kamu bingung topik apa yang akan di omongin di video berikutnya, di tahap ini tidak begitu penting. Hal ini bisa kita lakukan di tahap tahap berikutnya. Sekarang yang terpenting adalah MEMULAI..!

    Sampai akhirnya terbiasa berbicara depan kamera, dan rutinitas-rutinitasnya.

    Topik topik yang bisa kamu jadikan bahan video, dengan membahas hal-hal yang kamu suka, dan hal-hal yang kamu bisa.

    Perhatikan sekeliling kamu, lihat barang-barang yang kamu suka, lalu coba review, itu barang apa, dimana belinya, berapa harganya, dll.

    Mulai saja bikin videonya, karena tidak ada yang akan peduli, tidak akan ada yang nonton, karena kita masih di level 1. yang goalnya adalah MEMULAI…!

    Pilihan #1 berhenti atau lanjut? 

    Setelah kamu mengupload setidaknya 30 video pertama, dan mulai merasa terbiasa dengan rutinitas di level 1, kamu harus mulai melakukan pilihan yang pertama, tanyakan ke diri kamu, apakah saya merasa happy dengan ini semua? apakah akan saya lanjutkan?

    Tujuan dari pengambilan keputusan ini adalah, agar kita tidak menyesal suatu saat nanti. Di tahap ini setidaknya kita sudah berusaha mencoba. Tapi kenyataannya youtube tidak untuk semua orang ia kan?

    Jadi tanyakan ke diri kamu, apakah kamu berhenti atau lanjut?

    Jika kamu memilih berhenti, tidak masalah. kamu tidak akan menyesal. Karena setidaknya kamu sudah mencoba, dan akhirnya tau, apakah kamu merasa bahagia dengan ini semua atau tidak. Apakah ini jalanmu atau tidak.

    Jika kamu memilih lanjut, maka selanjutnya kamu pilih lagi. Seperti apa hubungan kamu dengan channel youtube ini.

    Apakah hanya melakukan ini dengan casual untuk kesenangan aja.

    Ataukah, memang untuk hal yang lebih serius.

    Casual artinya, kalau niat bikin video, ya bikin. tanpa ada ekspektasi apa apa. Just for fun aja.

    Kalau Serius, artinya kamu harus punya goal yang jelas, perhari, perminggu, perbulan dan pertahun. Karena kita punya ekspektasi, bahwa channel ini suatu saat harus menjadi channel yang besar. Sehingga kamu harus berkomitmen membuat konten rutin dan konsisten.

    Level 2 : Agar jadi bagus

    Untuk berpindah level dari level 1 yang buat video hanya untuk sekedar mulai saja, di level 2 ini, goal kita sudah harus menghasilkan konten-konten yang bagus dan berkualitas. Tidak sekedar video yang dibuat asal asalan, tapi semua sudah harus terkonsep dengan matang.

    Disini kita mulai belajar tentang menghasilkan gambar yang bagus, mulai penggunaan kamera, setting cahaya, setup ruangan, dan lain sebagainya. Intinya upaya agar video yang kita upload ke youtube, kualitas yang terbaik yang bisa kita buat.

    Ada dua cara untuk menjadi bagus. Yang pertama adalah dengan mengejar kuantitas (jumlah), yang kedua adalah mengejar kualitas.

    Tapi kalau kamu bukan pro, sebaiknya mulailah dulu dari mengejar kuantitas (jumlah), karena tiap 1 video yang kamu buat, skill kamu akan semakin meningkat, sehingga lama lama makin mudah membuat video yang berkualitas.

    Fokus bikin video secara konsisten, tiap hari ataupun tiap 3 hari sekali, dan lakukan 1% peningkatan tiap video baru yang kamu buat. Maka lama lama suatu saat nanti kamu akan mudah membuat video yang berkualitas.

    Definisi video bagus itu apa? biasanya orang orang akan menilainya dari :  Judul, thumbnails, susunan konten, personaliti kita, sudut pengambilan gambar, pencahayaan, editing warna, transisi video, background music.

    Lakukan juga dengan meningkatkan kualitas dari cara kita bicara, merapikan struktur script (tidak bertele tele / langsung ke poinnya), menambahkan jokes, dll.

    Karena sebagai youtubers, kita dituntut harus menguasai dan mampu mengerjakan segala profesi ini dengan baik. Tugas yang berat sih emang, tapi untuk kita yang memang berniat untuk mengembangkan diri, mungkin proses ini akan jadi menyenangkan. Karena merasakan pertumbuhan skill dari yang awalnya tidak tau ini jadi tau, yang awalnya tidak bisa ini jadi bisa.

    Cara mengukur apakah video kamu bagus/jelek?

    Nah cara ngetes atau ngukurnya, bisa dengan “Test Kengerian”. Ada dua test yang bisa dilakukan. Secara Internal (Intrinsik) dan secara External (Ekstrinsik).

    Internal Test

    Test kengerian adalah, dimana saat ada seseorang nyapa kamu, dan bilang “Hey, kemarin aku liat video youtubemu…” lalu, apa yang kamu rasakan? kalau kamu merasa ngeri atau malu, atau apapun perasaan negatif yang kamu tunjukan kepada diri kamu sendiri, itu artinya secara internal kamu merasa video ini memang belum bagus.

    Tapi kalau kamu merasa bangga sama diri kamu sendiri. bisa jadi itu adalah indikasi bahwa kamu percaya pada diri kamu sendiri bahwa kualitas video kamu nggak buruk buruk amat.

    Eksternal Test

    Atau ternyata tidak ada orang yang datang untuk mengapresiasi video kamu? tinggal cek, seberapa banyak perbandingan antara orang yang mengklik video kamu dan menontonnya? Karena ini adalah validasi yang paling hakiki.

    Karena goal kita melakukan semua ini hanya untuk 2 hal ini. Gimana caranya agar mendapatkan klik sebanyak banyaknya, dan bagaimana cara agar orang menonton selama-lamanya video kita.

    Jika kita mampu mengerjakan 2 hal tersebut dengan baik, maka kunci sukses menjadi seorang youtubers, sudah ada ditanganmu.

    Perlu kamu ingat juga bahwa, di awal – awal membangun channel youtube, data yang bisa kita olah masih sangat kecil, sehingga kita sulit menggunakan data tersebut sebagai alat ukur yang akurat.

    Tapi salah satu hal lain yang bisa kamu jadikan tolak ukur, apakah video kamu sudah baik atau masih buruk, adalah dengan melihat reaksi orang (engagement), lewat likes/dislikes dan isi di kolom komentar.

    Dengan melihat bagaimana reaksi dari penonton video kamu, disana kamu bisa menilai apakah video kamu sudah cukup bagus atau tidak.

    Apapun hasilnya, baik atau masih buruk, berkomitmenlah tetap mengupload video setidaknya 1 atau 2 video tiap minggu. Dan tiap video baru yang kamu buat, kamu harus terus belajar, dan terus meningkatkan kualitasnya, setidaknya 1% peningkatan tiap video baru yang kamu buat.

    Pilihan #2 Lanjut sebagai Hobi atau Bisnis? 

    Tibalah akhirnya kamu harus memilih, apakah channel ini akan kita lanjutkan hanya sebatas hobi yang “menghabiskan” uang, atau bisnis yang “menghasilkan” uang. 

    Masing-masing pilihan punya konsekuensi. Apakah kamu melakukan semua ini hanya untuk hobi, atau sebagai bisnis? Tiap orang pilihannya akan beda beda, dan sama sekali tidak ada yang salah dengan itu.

    Lanjut sebagai hobi

    Untuk channel youtube pribadi “PutuAdi.id”, ini saya perlakukan sebagai Hobi saja. Untuk saya bercerita hal-hal yang saya suka, hal-hal yang saya pelajari, dan sejenisnya.

    Tapi untuk channel saya yang lain, seperti wiki kombucha dan apotek hidup misalnya, memang saya desain dari awal sebagai channel bisnis.

    Intinya tiap orang punya pilihannya masing-masing, bebas, tidak ada salah dan benar. Tapi yang paling penting adalah, kita benar-benar harus bisa membedakan, apakah kita melakukan semua ini untuk hobi atau untuk bisnis.

    Karena kalau kita tidak memilih salah satunya, kuatirnya kita salah berekspektasi. Karena dua pilihan itu, punya aturan main yang sangat berbeda.

    Kalau kita memilih hobi, artinya kita melakukan semua ini hanya untuk seneng-seneng aja. Fokusnya untuk kesenangan diri sendiri. Dan tidak ada yang salah dengan ini, karena saya pribadi juga membuat channel bernama “Coverin Dong.” hanya untuk seneng senang saja. Saya main gitar, mengcover lagu-lagu favorit saya. Dan tidak ada upaya sedikitpun yang saya lakukan disana untuk memonetisasi, agar mendapatkan uang. Malahan apa yang saya lakukan disana, justru menghabiskan banyak uang, untuk membeli gitar, beserta perlengkapan lainnya. Jika kita memilih sebagai hobi, maka kita tidak perlu kuatir dengan hal-hal yang ada di Level 3 ini.

    Enaknya, hati senang. Nggak enaknya nggak dapet uang.

    Tapi sekali lagi, tidak ada yang salah jika kita memang harus memilih channel ini sebagai hobi. Yang paling penting disini adalah, menyadari bahwa aturan main antara kedua pilihan ini berbeda.

    Lanjut sebagai bisnis

    Tapi, misalnya kalau kita memilih channel ini sebagai channel bisnis, hal pertama yang harus kita sadari dari awal adalah, kita melakukan semua ini untuk menghasilkan uang. Uang datang dari audience, maka fokus kita untuk menyenangkan audience kita.

    Banyak youtubers pemula, yang berhasil sampai di level 3, yang awalnya melakukan semuanya atas dasar kecintaan, apa yang ia suka, dan apa yang ia bisa, kemudian sedikit demi sedikit mulai mengalami dilema.

    Karena membuat konten di youtube, kini sudah menjadi “pekerjaan”. Punya tuntutan untuk disiplin dan konsisten, secara terus menerus memproduksi video video baru, lagi dan lagi.

    Mungkin dulunya membuat video di youtube adalah “pelarian” dari rutinitas yang membosankan. Sekarang, membuat video youtube pada akhirnya berubah juga menjadi rutinitas yang membosankan. Sehingga banyak youtubers, butuh pelarian baru, untuk keluar dari rutinitas membosankan sebagai youtubers.

    Akhirnya banyak youtubers pemula, mengalami burnout. Maka berhati-hatilah.

    Namanya juga bisnis. Contohnya, misalkan kita buka toko. Kita tidak bisa hanya menjual barang-barang yang kita suka kan? Karena pemasukan toko, datang dari customer. Maka, Kita harus menjual barang-barang yang disukai oleh customer kita. Walaupun kita kita menyukai barang tersebut.

    Tapi ini juga tidak kaku banget. Kalian bisa memilih takaran yang pas, dimana kamu bisa tetap enjoy, di satu sisi juga tetap bisa “bisnis” untuk menghasilkan uang.

    Berikut adalah gambar venn diagram. Yang memetakan posisi yang ideal.

    Jadi ambilah irisan yang paling tengah, antara hal yang kamu suka, hal yang kamu bisa dan hal yang audience suka.

    Level 3 : Agar jadi besar

    Berikut ini adalah 3 hal yang bisa kita gunakan untuk sukses di level ke 3 untuk menjadi besar. Yaitu : workflow (alur kerja), cashflow (arus kas), dan outflow (alur penyelesaian).

    Workflow atau alur kerja, kita memerlukan strategi kerja dan sistem kerja. Sedangkan Cashflow atau arus kas (penghasilan), kita harus fokus membangun value yang menjadi produk dari channel kita, dan terakhir Outflow atau alur penyelesaian, sudah saatnya kita pindah dari yang awalnya bekerja keras, kini sudah harus mulai bekerja cerdas. Sehingga kita sudah harus merekrut tim, dan membentuk management yang handal.

    Tapi disini kita cukup fokus pada Workflow atau alur kerja dulu. Karena ini PR pertama yang harus dikerjakan sebelum mengerjakan dua hal lainnya.

    Kita mengembangkan strategi yang mencakup :

    Tentukan target/goals yang spesifik

    Buatlah goal yang bisa kamu raih dulu, jangan langsung buat goal yang besar. Tentukan goal secara bertahap, tiap tahun kita harus punya goals baru. Maka dari itu, tentukan target/goals yang sederhana dulu, agar mudah diraih. Setelah berhasil diraih, buat goals baru. Dengan punya goals/tujuan, itu akan jauh lebih baik daripada tidak.

    Tentukan niche

    Mulailah dari hal hal yang kamu suka dan kamu bisa. Lalu dari sana, cari kira kira niche apa yang bisa kita isi. Karena segala hal pasti ada marketnya. Jangan bahas segala hal, nanti itu bisa menyebabkan channel kita tidak punya identitas, sebenarnya ini channel apa? audience bingung. Jadi penting banget menentukan niche kita apa, agar audience juga mudah menemukan kita.

    Siapa target audience kita

    Masih ada kaitannya dengan niche, dengan menemukan niche yang tepat. Kita juga bisa dengan mudah mendefinisikan siapa target audience kita. Dikelompokan berdasarkan gender, umur, perilaku, dan lain sebagainya, dari sana kita cari tau apa problem mereka, apa yang mereka suka obrolin, apa yang sedang mereka butuhkan, dll. Maka dari sana, kita bisa punya inspirasi, kira kira konten apa yang kira kira punya potensi.

    Analisa kompetitor

    Dengan tau topik topik apa yang disukai oleh audience kita, maka kita juga bisa mencari channel-channel lain, untuk mencari tau, topik topik apa saja yang mereka bahas. Dari sana, kita jadi punya inspirasi untuk membuat konten berikutnya.

    Mempelajari keunggulan pesaing

    Setelah menemukan channel-channel yang sejenis yang juga membahas topik topik yang kita bahas, dimana niche dan target audiencenya mirip dengan kita. Disini kita cari tau, topik apa saja yang mereka bahas, bagaimana cara dia bertumbuh, apa yang menjadi keunikan mereka, dll. Disini kita pelajari apa yang membuat mereka unggul. Kemudian kita terapkan di channel kita. Lama lama kita akan tau, apa sebenarnya keunikan kita. Ada orang bijak berkata “Kita terhindar dari persaingan, karena kita punya keunikan”

    Perencanaan

    Berdasarkan data – data diatas, goal kita apa, niche yang kita bidik, perilaku target audience kita, siapa kompetitor kita, strategi apa yang digunakan oleh kompetitor kita sehingga dia bisa berhasil, dll. Dari sana kita membuat perencanaan, mau kemana kita, apa yang harus kita siapkan, apa yang harus kita kerjakan, bagaimana kita bisa mencapai ini dan itu.

    Setelah mengetahui strategi apa yang akan kita jalankan, tugas berikutnya adalah menyusun sistem, agar prosesnya lebih ringkas dan mudah.

    Nah itu adalah teori yang akan saya praktekan pada eksperimen “Membuat channel youtube dari nol” ini. Semua proses perjalanannya, akan saya dokumentasikan disini. Kalau kamu ingin memulai channel youtube juga, tapi bingung mulai dari mana? Jangan segan untuk komen di kolom komentar, kita buka diskusi, kita jalan bareng-bareng.

    Salam,

    Putu Adi.