Ini hanya untuk catatan pribadi aja, soalnya saya sudah 2x mengalami masalah seperti ini, tapi dulu lupa solusinya apa. Makannya sekarang saya catat, biar nggak lupa.
Oke, ini sudah 2x kejadian, solusinya tetap sama!
Kronologi
Saya sudah lama menggunakan offcanvas sebagai tampilan membuka menu di mode mobile untuk semua website yang saya develop. Jadi sudah tidak pakai dropdown menu lagi. Karena menurut saya, dropdown menu terlalu biasa. Terlihat seperti website murahan.
Nah kali ini saya lagi meng-upgrade sebuah website client saya, dia pengen di rombak tampilannya, agar jadi lebih fresh. Sehingga saya melakukan beberapa perubahan di fitur – fiturnya, termasuk tampilan membuka menunya.
Setelah saya sesuaikan coding di navbar menu, saya pasangin offcanvas, setelah di coba, nggak ada respon apa apa saat di klik. Tapi kalau di lihat di inspect element chrome, saat tombol menu di klik, ada pergerakan kok di html nya. Codenya jalan, tapi tidak tampil.
Ada setengah hari, saya cari solusinya, tapi nggak nemu – nemu, dan saya inget, dulu pernah ngalamin ini juga. cuman lupa caranya gimana.
Saya sudah hampir putus asa, mau ngoding ulang website ini dari awal. Tapi iseng iseng saya kulik kulik lagi. Akhirnya saya baru inget, ini masalah di JS nya.
Penyebabnya
Ini terjadi karena versi bootstrap saya, masih versi lama, dimana fitur offcanvas ini belum ada. Seperti yang saya ceritakan tadi, ini adalah website client saya, yang udah saya buat dari tahun 2017. Jadi waktu itu masih pakai versi bootstrap yang masih lawas, kalau tidak salah tadi versi 3. Saya langsung ganti, tapa saya catat. Tapi kayaknya versi 3.
Solusinya
Caranya simpel banget!. Pastikan versi bootstrap kamu sudah pakai versi terbaru, versi 5. Dan antara CSS dan JS nya, pastikan versinya sama.
Biar gampang, dan nggak muter-muter sampai pusing berjam-jam kayak saya tadi, mending kamu update ke bootstrap versi terbaru.
Sebelumnya saya pakai bootstrap versi 3. Hari ini (23 April 2023), versi bootstrap yang terbaru adalah versi 5.
Catatan :Dengan mengupdate ke versi terbaru, mungkin beberapa komponen di desain kamu (CSS), akan mengalami kerusakan, dan harus disesuaikan kembali.
Saya punya website toko online, dibuat menggunakan woocommerce. Dan hari ini, saya ada kebutuhan untuk meng query data produk, dari database nya wp woocommerce, untuk kemudian data list produk tersebut, saya tampilkan di sebuah halaman website (situs yang berbeda).
Sehingga saya gunakan query ini :
Tapi hasilnya salah. Dimana meta_value yang isinya harga produk, padahal sudah di order by * ASC, namun hasilnya tidak berurutan dari yang paling murah, ke paling mahal. Hasilnya seperti gambar dibawah ini. Yang terurut hanya karakter paling depan saja. 1, 3, 4, 6, 7 dan 9.
Seakan-akan, query tidak melihat field tersebut, sebagai angka/integer.
Nah solusinya, kita ubah value dari field meta_value ini sebagai desimal. Caranya pakai code ini.
order by IF( wppm.meta_value REGEXP '^-?[0-9,.]+$' = 0, 9999999999 , CAST(wppm.meta_value AS DECIMAL) ), wppm.meta_value;
Dalam kasus saya, error ini terjadi, karena ekstensi yang sama, saya install di dua akun google yang berbeda.
Di laptop saya, ada banyak akun gmail. Karena tiap project/jenis pekerjaan, saya pisah di akun Gmail yang berbeda. Sedangkan sistem kerja Google Chrome, tiap ekstensi yang terinstall di Gmail A, tidak akan terbaca di Gmail B.
Sehingga, saat saya pindah mengerjakan project B (di akun B), ekstensi yang saya install di akun A, tidak terbaca di akun B. Padahal, beberapa ekstensi yang sudah saya install di akun A, saya butuhkan juga di akun B.
Salah satu ekstensi yang selalu saya pakai adalah “Text To Speech” bernama “Read Aloud TTS“
Nah barusan, kebetulan saya sedang mengerjakan sesuatu di akun B, sehingga saya harus install ekstensi “Read Aloud TTS” di akun B.
Cara install ekstensi di Google Docs :
1. Klik menu Extensions ➡ Add-ons ➡ Get Add-ons
2. Cari atau pilih ekstensi yang mau kamu install, dalam kasus ini, saya mau install Read Aloud TTS.
Klik ekstensinya, lalu klik tombol Install.
Jika muncul dialog seperti diatas, klik Continue.
Disinilah, muncul error “Bad Request Error 400”
Solusi / Cara penanganan
Saya sudah sempat coba di dua komputer yang berbeda, tapi tetap error. Dan saya sudah coba bersihkan cookies dan cache, dan tetap aja error.
Saya juga tidak tahu persis ini disebabkan oleh apa, tapi solusi ini tidak sengaja saya coba, dan berhasil.
Caranya dengan menginstall ekstensi di akun google kamu. Dengan mode “Penyamaran” atau “Incognito”.
1. Klik tombol titik tiga di sudut kanan atas, lalu klik New Incognito Window
2. Lalu saat membuka google drive atau google docs, silahkan login dengan akun gmail yang ingin kamu install ekstensi tersebut.
3. Begitu masuk ke google docs, install ekstensi seperti biasa. Extensions ➡ Add-ons ➡ Get Add-ons
Sebenarnya, ini tuh udah jadi rahasia umum, di kalangan pemain bisnis online. Semua tau, dan “semuanya” pakai jasa beli followers.
Tapi kalau kamu, baru tau hari ini? ya kemungkinan kamu baru, di dunia persilatan bisnis online ini.
Kalau kamu baru tau hari ini?, Good!, kamu di artikel yang tepat. Disini saya akan bongkar, semua rahasianya, sampai tuntas!
Setelah nonton rangkaian artikel ini, kamu bakal punya sudut pandang baru, yang sedikit berbeda, tentang praktek jasa beli followers.
Karena faktanya, beli followers itu “tidak curang”, hari ini sudah menjadi “strategi dagang”.
Kalau kamu hari ini, memulai bisnis online, tapi tidak ikut pakai cara ini, kemungkinan kamu akan ketinggalan jauh dari kompetitor kamu.
Terutama dalam konteks mengembangkan akun sosmed.
Silahkan simak sampai habis, pasti bermanfaat.
Disclaimer
Sebelum masuk ke pembahasan, episode 1 dan episode-episode berikutnya, saya mau disclaimer dulu, agar kamu tidak perlu ngabisin energi, untuk berpikir, dan berkomentar skeptis tentang konten ini.
Beli Followers, tidak untuk semua orang, mungkin bukan untuk kamu, Jadi simak ini baik baik.
Menghasilkan followers secara organik, adalah cara yang paling bener. Tapi kalau kamu tidak mampu menghasilkan followers secara organik, beli followers adalah salah satu opsinya.
Beli followers, hanya untuk di awal-awal saja, setelah akun baru dibuat. Setelah itu, kamu akan lebih mudah dapetin followers baru secara organik. Karena prinsipnya, akun dengan followers yang banyak, lebih mudah mendapatkan followers baru. Dibandingkan akun yang followersnya dikit (100 followers misalnya), Apalagi, akun sosmed untuk dagang.
Semua yang saya jelaskan di konten ini, atas dasar niat baik, untuk membantu. Karena saya juga mengalaminya sendiri, sebagai web developer, saya juga melihat keresahan ini di client-client saya. Jadi konten ini, didasari atas niat baik, untuk membantu klien saya, dan moga moga bisa membantu kamu juga.
Beli followers yang saya jelaskan ini, untuk membantu pelaku UMKM, yang sedang merintis produk atau usaha mereka. Untuk jualan ya, untuk berdagang. Jadi saya nggak ngajarin kamu beli followers, hanya untuk gaya gayaan.
Walaupun untuk keperluan “dagang”, konten ini saya di khususkan, bagi kamu yang budget marketingnya minim, atau bahkan nggak ada sama sekali. Tapi kalau, kamu punya budget marketing diatas 1 juta per bulannya, mendingan kamu pakai strategi lain, seperti iklan berbayar, endorse, memproduksi konten dengan budget, dll.
Bagi kamu, seorang seleb, atau publik figur, atau brand besar. konten ini bukan untuk kamu.
Strategi ini hanya untuk kamu, mbak-mbak dan mas-mas biasa, seperti saya. Yang nggak punya privilege apa apa. Tapi punya produk atau layanan yang bagus. Dan layak diperkenalkan ke orang banyak.
Strategi Beli Followers, tidak untuk semua orang, dan hanya dilakukan di awal awal saja, tidak seterusnya. Ingat itu baik baik.
Saat beli followers, tidak boleh sembarangan juga. Salah beli followers, akun kamu bisa kena blokir. Salah beli followers, kamu bisa kena tipu.
Agar kamu terhindar dari semua itu, silahkan simak semua episodenya, biar kamu paham aturan mainnya.
Oke saya akan mulai jelaskan dari hal paling dasar dulu. Bagi kamu yang belum paham, beli followers itu maksudnya gimana? Sini saya jelasin.
Karena dua teman saya, salah mempersepsikan apa itu beli followers. Jadinya saya pikir, kayaknya perlu ngejelasin apa itu beli followers.
Mereka pikir, beli followers itu, bayar orang terkenal untuk bikin konten. Lalu, kontennya di upload di akun sosmed kita. Harapannya, fans mereka ikut memfollow akun sosmed kita. Itu namanya endorse. Beli followers tidak serumit itu.
Saya coba jelaskan, dengan membandingkan 2 kasus ini.
Pertama, gimana dapetin followers secara organik (cara normal)
Kedua, gimana dapetin followers dengan cara beli (beli followers).
a. Cara Organik
Jadi gini, kan biasanya, setelah bikin akun, karena akunnya baru, followersnya masih sedikit, anggap aja misalnya yang follow baru 1. Yang ngefollow kamu sendiri.
Proses berikutnya biasanya, kamu share ke temen-temen, dan saudara-saudara kamu, minta tolong, agar akunnya di follow.
Udah ngemis-ngemis minta di follow, ehhh mentok-mentok dari sana cuman dapet 100 followers.
Sebagai mbak-mbak dan mas-mas biasa seperti saya. Perjuangan untuk dapatin 100 – 300 followers itu, susah banget. Apalagi ini akun untuk jualan.
Kalau akun pribadi sih, cenderung lebih gampang. Karena orang (kenalan kita), justru yang minta biasanya. Tapi dalam kasus ini kan, kita bahas akun dagang.
Itu baru dapetin 100 – 300 followers, udah susah banget, kapan nyampek ke 3.000 followers?
Nah dengan beli followers, kamu cukup sediakan uang, lalu bayar ke jasa tambah followers (contoh : https://belifollowers.id ) nggak perlu repot-repot ngapa-ngapain, tunggu beberapa saat, kamu udah dapet 3.000 followers, tanpa perlu ngemis-ngemis minta follow.
Saya rekomendasikan tempat beli followers instagram, dengan harga murah, followersnya permanen, dan sudah terbukti aman, ada garansinya juga. Dan saya pribadi selalu pakai ini. Cek https://belifollowers.id
Pilih paket followers mana yang kamu ingin beli, klik “Beli Sekarang”
Isi semua form dan lanjutkan ke proses pembayaran
Yang awalnya cuman 100 followers, nanti tiba tiba, jumlah followers kamu bertambah sesuai jumlah yang kamu pesan.
Enak nggak? enak lah.
Anggap saja, kamu pesan 3.000 followers.
3.000 followers, kalau kamu lakukan manual, “normalnya” butuh waktu berbulan bulan. Yang kita korbankan adalah waktu, tenaga, pikiran dan uang.
Nah dengan beli followers, yang kamu korbankan cuman satu, yaitu uang. sehingga kamu bisa menghemat waktu kamu, tenaga kamu, dan pikiran kamu, untuk melakukan hal lain yang lebih produktif. Bikin konten produk misalnya.
Pertanyaan umum
Pasti ada yang bilang :
Q : Ahhh jumlah followers itu nggak penting bro, yang penting itu interaksinya (views, like, komen, share).
A : Brooo ini akun dagang, followers aja baru 100, gimana orang meratiin kita? gimana orang percaya sama akun toko online kita? boro boro dapet interaksi.
Semuanya penting bro!. Akun dagang kita, akan dinilai bagus, oleh calon customer kita, dinilai dari banyak faktor.
Mulai dari profile picture, jumlah followers, isi bio, kerapihan feeds, kualitas konten, cara kita merespon, dan lain – lain.
Jangan pilih salah satu, kita harus penuhi semua faktor itu.
Mumpung di episode ini, kita lagi ngomongin followers, jadi kita spesifik ke followers, bahwa followers itu penting, sama pentingnya dengan interaksi dari audience, dan seluruh faktor tadi.
Mungkin ada yang bilang lagi :
Kalau beli followers, nanti akun kita bisa kena banned, atau shadowban
Kalau beli followers, nanti berpengaruh ke conversion rate
Kalau beli followers, awalnya aja nambah, nanti followers turun lagi
Sudah transfer, tapi orangnya kabur, ketipu.
Dan semua pertanyaan-pertanyaan atau kasus-kasus yang terjadi. Akan saya bahas tuntas di blog berikutnya.
Semua hal buruk itu bisa terjadi, karena kamu nggak ngerti aturan mainnya.
Inilah tujuan utama saya, bikin konten ini. Untuk ngasih wawasan, gimana caranya kita menggunakan strategi beli followers ini, dengan baik dan benar.
Sehingga, kita bisa terhindar dari masalah-masalah tadi, dan justru mendapatkan manfaatnya.
Di artikel berikutnya, nanti juga ada pembahasan lainnya, tentang :
Asal usul jasa tambah followers
Konsep dan cara kerja jasa beli followers
Jenis-jenis followers (ada asli aktif, asli pasif dan bot)
Apakah beli followers ini perbuatan tidak baik?
Dan masih banyak lagi.
Jadi silahkan ikuti terus kelanjutan artikel ini ya. Biar kamu paham aturan mainnya.
Kalau selama ini kamu pikir, baca buku = belajar, kamu salah besar. Faktanya baca buku, tidak sama dengan belajar.
Tulisan ini merupakan salah satu konten di playlist channel youtube saya, nama playlistnya “Belajar Cara Belajar” Dan ini merupakan episode ke 1.
Apa itu belajar?
Membaca, mengikuti kelas, mengikuti seminar, dengerin dosen ngomong, dan seterusnya… semua itu adalah proses belajarnya. Dengan cara itu, harapannya kita bisa belajar sesuatu.
Karena baca buku, itu belum tentu belajar loh.
Belajar, adalah, ketika kita, mengalami perubahan, dari yang awalnya tidak tau, menjadi tau, dan dari tau, menjadi paham.
Perubahan status dari tidak tau menjadi paham inilah, yang disebut belajar.
Karena saat kita baca buku, tapi tidak mampu memahami isinya, itu bukan belajar namanya, tapi baca.
Baca tidak sama dengan belajar.
Karena baca, adalah proses belajarnya.
Sedangkan belajar, adalah hasil dari baca.
ketika kita mendapatkan pemahaman baru.
Nah kalau dalam bahasa inggris, lebih mudah dipahami, karena Study dan Learn, itu berbeda pemahamannya.
Study = proses
Learn = hasil
Nah belajar yang kita bahas disini, bukanlah belajar dalam konteks akademis. Melainkan dalam konteks pengembangan diri, bisa di dunia profesi, maupun di kehidupan kita sehari-hari.
Ciri ciri belajar
Seperti prinsip tadi, belajar adalah perubahan status, dari tidak tau menjadi paham.
Ciri-ciri orang, yang habis belajar sesuatu, adalah mampu menjelaskan apa yang sudah ia pelajari.
Contoh 1 :
Pernah nggak ngeliat orang, yang mengalami musibah, lalu setelah semua itu lewat, terus dia ngomong “Wah gua belajar banyak dari kejadian ini….” abis itu biasanya dia bakal cerita panjang tuh….
Contoh 2 :
Atau, lagi baca sesuatu, “Ooooo gini ya ternyata, gua baru tau…” nah itu ciri ciri bahwa kamu sedang belajar sesuatu.
Kan biasa gitu ya? saat kita baru paham sesuatu, ekspresi kita. Oooo gitu….
biasanya disebut juga dengan istilah “aha moment”.
Belajar itu adalah tentang mendapatkan pemahaman, sampai sampai kamu merasakan pemahaman tersebut.
Perasaannya menyenangkan, ada rasa penasaran “ada aha moment apa lagi ya?”, rasanya waktu berjalan cepat, pokoknya kamu sangat menikmati prosesnya. Kamu melakukannya karena bukan disuruh, dorongannya dari diri kamu sendiri.
Itu ciri ciri kamu lagi belajar.
Ngomongin aha moment, misalnya pas lagi baca, tapi nggak ada aha momentnya, gimana dong?
Bisa jadi, karena emang bukunya jelek (yang mana kemungkinannya sangat kecil)
Atau, bukunya emang bagus, tapi kitanya yang nggak punya penalaran yang baik, sehingga tidak mampu melihat informasi yang berharga di halaman sebuah buku.
Ketidakmampuan penalaran yang baik, juga sangat dipengaruhi oleh pemilihan topik untuk dipelajari.
Di episode lainnya, nanti akan dibahas juga cara mengatasi kesulitan dalam proses belajar.
Ilusi belajar
Walaupun kamu baca buku tiap hari, tapi kalau saat baca nggak ada aha momentnya, biasanya cepat lupa tuh, sama apa yang sudah dibaca.
Kalau “cara belajar” kamu benar, kamu akan mudah mendapatkan aha moment saat proses belajar.
Karena belajar itu ada caranya, agar kita mampu memahami sesuatu secara mendalam.
Caranya gimana?, ikuti semua konten “Belajar Cara Belajar”, klik playlist nya di deskripsi.
tonton episodenya secara berurutan, nanti kamu akan paham.
Mungkin ada yang bilang “buku yang saya baca bertahun-tahun lalu, masih nempel kok di kepala saya sampai sekarang”
Oh bagus! berarti itu tanda, kalau cara belajar kamu bener. sehingga pemahaman kamu dalam.
Tapi, hati-hati juga nih, ada sebuah istilah bernama “Illusion Of Competence”. Sebuah ilusi di pikiran kita, dimana kita merasa diri kita “paham”, hanya karena kita sudah pernah membacanya, pernah denger, pernah liat, Tapi kalau disuruh ngejelasin, bingung.
Karena prinsipnya gini,
Kalau kamu tidak mampu menjelaskan apa yang sudah kamu pelajari, berarti itu tanda kalau kamu tidak paham.
Hari ini, banyak banget orang yang mengalami ilusi ini. Karena overdosis informasi dari sosial media. Merasa dirinya belajar banyak hal dari sosmed. dan merasa pintar. Padahal itu cuman ilusi dipikirannya aja.
Hanya sekedar tahu, tapi sebenarnya tidak paham.
Nah untuk topik Illusion Of Competence, akan dibahas khusus di episode 2, episode berikutnya. Bisa klik di kanan atas, atau cek di deskripsi.
Tujuan Belajar
Dulu waktu kecil, waktu masih tinggal di desa, sering banget denger kata-kata.
Udahlahhh.. ngapain belajar terus sih?, mau ganti presiden kamu (katanya)? atau,
Spesifik untuk yang perempuan biasanya, ngapain sekolah tinggi-tinggi, ujung2nya juga ngurus dapur, nyapu rumah, ngurusin anak.
Ya walaupun itu konteksnya bercanda ya.
Tapi, nyatanya. banyak banget orang – orang, begitu lulus sekolah atau kuliah, dia berhenti belajar.
Ada begitu banyak alasan saintifik, mengapa sebaiknya kita tidak pernah berhenti belajar seumur hidup.
Salah satu alasannya, agar kita tetap relevan dengan zaman, karena dunia terus bergerak maju. Teknologi baru terus, cara manusia hidup, berubah terus.
Jadi, dengan terus belajar hal-hal baru, itu adalah salah satu upaya kita, untuk bertahan hidup di jaman sekarang.
Karena dengan terus belajar, pikiran kita jadi tetap tajam, wawasan kita semakin luas. Sehingga kita bisa selalu selamat dari perubahan. Bijak dalam mengambil keputusan, menjaga kualitas diri sehingga selalu di hormati, dan banyak banget manfaat ketika kita menjadi orang yang ber-ilmu.
Dengan punya knowledge dan skill yang terus di upgrade, selamanya kita akan tetap dibutuhkan. Baik itu dilingkungan keluarga, dilingkungan kerja, dan dilingkungan masyarakat.
Karena momen yang paling menyedihkan, adalah ketika kita sudah tidak dibutuhkan lagi.
Maka dari itu, jangan pernah berhenti belajar, karena knowledge dan skill harus terus di upgrade, agar selalu relevan dengan zaman.
Di episode berikutnya, kita akan bahas sebuah fenomena bernama “Illusion Of Competence”, sebuah ilusi yang dirasakan seseorang, yang mengira dirinya “pinter” padahal sebenarnya tidak. Salah satu penyebabnya, karena mengkonsumsi konten sosial media, terlalu banyak.
Dulu, awal diperkenalkannya marketplace di Indonesia, seingat saya sekitar Tahun 2010an. Waktu itu belum ada yang namanya gratis ongkir.
Bahkan jauh sebelum marketplace, orang Indonesia dulunya belanja online di kaskus FJB (forum jual beli). Nah di kaskus, jangankan gratis ongkir, kita sebagai pembeli, kalau mau bayar, itu kena biaya lagi. Karena waktu itu sistem pembayarannya masih pakai rekening bersama (rekber). Jadi antara toko, sistem pembayaran, dan kurir semua terpisah. Pokoknya primitif banget lah waktu itu.
Nah kemudian dari 2010 ke 2015, beragam perusahaan marketplace mulai bermunculan, bukalapak, tokopedia, shopee, lazada, blibli, dll. yang datang dengan beragam promo yang memanjakan pembeli.
Ini adalah masa masa stimulus, semua pelaku marketplace mendorong masyarakat yang awalnya belanja di toko konvensional (offline), agar beralih terbiasa berbelanja online di marketplace.
Di tengah – tengah kompetisi marketplace yang semakin sengit, dimana masing masing dari mereka, saling mengeluarkan senjata pamungkasnya untuk memenangkan hati customer.
Mulai dari iklan iklan unik, pakai bintang iklan kelas dunia, promo diskon gila gilaan, cashback, dan salah satunya adalah gratis ongkir.
Promo gratis ongkir adalah salah satu strategi marketing yang sangat-sangat efektif untuk menstimulasi / membuat orang yang tadinya terbiasa belanja di toko konvensional, jadinya tertarik berbelanja online.
Karena memang faktanya, barang sejenis, harga yang ditawarkan di marketplace, bisa jauh lebih murah, jika dibandingkan kita beli di toko konvensional.
Kalau dilihat dari sudut pandang pembeli, sebetulnya sudah pasti beli barang di marketplace bakal jauh menggiurkan, ragam produk yang banyak, harga yang ditawarkan jauh lebih murah, serta segala kemudahan yang ditawarkan oleh marketplace. Tapi salah satu yang menjadi pertimbangan belanja atau tidaknya adalah, biaya kirimnya.
Karena untuk beberapa kasus, saat berbelanja di marketplace, ongkirnya bisa jadi lebih mahal dari harga produknya. Misal, harga produknya 50.000, biaya kirimnya bisa aja 70.000.
Karena lokasi penjual dan pembeli berjauhan secara geografis. atau, walaupun lokasi penjual dan pembeli berada di satu pulau, tapi beda kota misalnya, (yang ongkir per kg harusnya relatif murah), tapi karena bobot paketnya berat, sehingga ongkirnya juga jadi mahal.
Intinya, sering kali yang bikin orang enggan belanja online, adalah karena ada biaya ongkos kirim yang harus dibayar.
Nah perusahaan marketplace melihat masalah itu menjadi peluang sebagai alat marketing, untuk menarik hati customer. Udah harga barangnya murah, gratis ongkir pula.
Akhirnya belanja online dan gratis ongkir ini sudah menjadi budaya, di semua marketplace besar di Indonesia.
Sampai sampai pelanggan pun sudah terlanjur manja atau kecanduan, kalau belanja online tapi nggak gratis ongkir, nggak jadi belanja, dan pindah ke aplikasi lain.
Gratis ongkir merugikan marketplace?
Seingat saya, budaya gratis ongkir ini sudah dimulai sejak Tahun 2017an. Selama program ini berjalan, boleh dibilang, para marketplace lah yang menanggung ongkos kirim, seluruh transaksi untuk produk-produk yang berlabel gratis ongkir.
Kenapa marketplace mau bayarin? ya karena ini sudah jadi strategi marketing mereka, kalau tidak ikutan kasih free ongkir, pelanggan akan lari ke marketplace kompetitor.
Tapi untungnya perusahaan startup marketplace ini di backup dana yang besar oleh para investornya. Sehingga ngasih gratis ongkir ke pelanggannya mirip kayak dana untuk ngiklan di TV, billboard, dll. Gratis ongkir = biaya marketing.
2020 seluruh Dunia dihantam pandemi covid 19. Banyak unit bisnis terganggu dan merugi.
Nah untuk diketahui, perusahaan shopee ini merupakan anak perusahaan, dari Sea Grup, perusahaan publik yang pusatnya di Singapura. Sea Grup punya banyak lini bisnis di seluruh dunia. Dan pendanaannya sendiri berasal dari luar negeri. Saat ekonomi dunia penuh dengan ketidakpastian, maka anak perusahaan seperti Shopee akan ikut terdampak.
Belum selesai dihantam covid 19, perang rusia – ukraina juga meledak. Yang membuat pendanaan dari induk perusahaan jadi terganggu.
Sehingga, mau nggak mau, shopee harus melakukan efisiensi di mana mana, termasuk PHK karyawan.
Dan menurut pengamatan saya, shopee juga akan melakukan efisiensi di Gratis ongkir.
Nah ngomong-ngomong gratis ongkir, baru baru ini, shopee membuat layanan pengirimannya sendiri, yaitu. Shopee Xpress.
Bagi yang sudah pernah belanja di shopee menggunakan jasa kirim Shopee Xpress, udah pasti tau, seperti apa layanannya.
Pengirimanyna lambaaaaaat bangeeeeeeet….! Awalnya saya pikir, cuman pengiriman dari jakarta ke bali aja yang seperti itu, ternyata dikota-kota lain juga ngalemin. (Bisa di baca disini)
Apakah Shopee Xpress hanya akal-akalan?
Kenapa tiap kali kita checkout belanjaan di shopee, lalu pilih gratis ongkir, secara default, kurir yang terpilih adalah Shopee Xpress, yang layanan pengirimannya sangat lambat itu?
Atau jangan-jangan ini cuman akal-akalan shopee aja?, agar penggunanya membenci layanan gratis ongkir, dan mulai membiasakan diri untuk ikhlas bayar ongkir?
Kenapa saya bisa bilang gitu? karena saya perhatikan setelah beberapa kali belanja barang di shopee, seluruh paket yang dikirim oleh Shopee Xpress, semuanya bikin gregetan!, pengirimannya lambat banget!, rata-rata 2 minggu baru sampai. Padahal barangnya kita butuhin segera.
Diwaktu yang bersamaan saya beli barang di shopee, tapi pakai jasa kirim regular (AnterAja, J&T, dsj…) pengirimannya cepet-cepet aja, 2-3 hari sudah sampai.
Nah lalu saya berspekulasi, apa jangan-jangan Shopee menciptakan Shopee Xpress, karena sebuah misi?, yaitu menghilangkan budaya gratis ongkir di Indonesia.
Mau gratis ongkir? ya harus sabar menunggu!, paket 2 minggu baru sampai.
Atau mau cepet? ya bayar ongkir!, paket 2-3 hari sudah sampai.
Seakan – akan pesan itu yang mau disampaikan oleh shopee.
Sekali lagi, ini cuman spekulasi saya aja ya.
Kita dukung penghapusan Gratis Ongkir?
Saya bikin artikel ini, justru karena saya bisa memahami keadaannya. Justru memang sudah waktunya dibiasakan, kalau belanja online, ya harus bayar ongkir.
Biar ada gambaran, saya coba ilustrasikan, agar dapet konteksnya.
Saya kan tinggal di Bali, saat saya beli barang di jakarta, berarti paket saya tersebut, selama pengiriman jakarta-bali, akan berpindah – pindah tangan.
Bayangin aja, berapa manusia yang menghandle paket tersebut dari jakarta hingga bali? emang orang-orang ini nggak di gaji? kan orang kerja harus digaji.
Selain melibatkan manusia, juga melibatkan alat transportasi, mulai dari sepeda motor (kurir jemput paket), dikirim ke gudang, disortir, lalu dimasukkan ke truk, dikirim ke bandara, lalu diterbangkan oleh pesawat, sampai di kota tujuan, langsung diangkut truk lagi, dikirim ke gudang penampungan kota tujuan, dari gudang disortir lagi, diangkut mobil lagi untuk dikirim ke gudang hub kecamatan. Setelah itu, barulah diangkut sepeda motor oleh kurir, untuk diantarkan ke rumah kita.
Seluruh transportasi itu emang nggak pakai biaya?
Saya menjelaskan ini biar kebayang, bahwa perpindahan paket dari kota A, ke kota B, itu butuh biaya. Jadi worth it kalau kita harus bayar ongkir.
Selama ini, seluruh biaya pengiriman ini ditanggung oleh pihak shopee (di traktir). Jadi lu harus sadar, bahwa selama ini kita di TRAKTIR lohhh sama shopee.
Namanya traktir, kan nggak terus terusan kan?
Pemerintah aja makin kesini, subsidi BBM dikurangi terus. ia nggak? itu negara loh.
Startup di Indonesia lagi susah
Oke balik lagi ke topik.
Kalaupun spekulasi saya benar, bahwa Shopee menciptakan Shopee Xpress untuk upaya menghilangkan kebiasaan gratis ongkir. Menurut saya sah sah saja.
Karena faktanya, saat ini bisnis startup lagi nggak baik baik aja, terutama di Indonesia. Banyak banget headline news tentang perusahaan startup yang tutup, dan yang masih jalan pun, banyak yang harus mem-PHK karyawannya. Karena di masa sulit seperti ini, perusahaan dituntut melakukan efisiensi dimana mana. Salah satunya ya di subsidi gratis ongkir ini.
Untuk sekedar info, saya juga aktif sebagai seller di Shopee dan Tokopedia, dan saya sangat bersyukur, karena sudah dapet rejeki yang lumayan lah dari kedua marketplace ini. Saya sehari hari hidup dari hasil jualan di shopee dan tokopedia.
Subsidi Gratis Ongkir dibebankan ke Seller
Nah karena aktif sebagai seller, saya juga tau bahwa, sekarang di tokopedia ataupun di shopee, biaya subsidi gratis ongkir yang dinikmati pembeli, juga harus ditanggung oleh penjual (seller). Rata-rata saya perhatikan 10ribuan tiap transaksi.
Dan sempat banyak beredar video-video tiktok, tentang keluhan para seller di shopee/tokopedia, karena mereka tidak tahu bahwa ada potongan biaya yang cukup besar dari tiap penjualan produknya (biaya subsidi ongkir).
Note : Selain dua video diatas, masih banyak lagi. Nggak mungkin saya masukin semua disini.
Dan ini terjadi tidak hanya di shopee ya! di Tokopedia juga. ini saya kasih contoh penampakannya di Akun Tokopedia Seller saya. Saya coba kasih 2 capture contoh transaksi.
Kalau saya, kebetulan banget keuntungan tiap produk / marginnya cukuplah, sehingga saat kena potongan biaya 10ribu/transaksi, saya masih oke.
Tapi masalahnya, bagi para seller produk produk komoditi, atau produk yang saingannya banyak di marketplace, itu margin keuntungannya sedikit banget. bahkan ada yang dibawah 10ribu per produk. Sehingga banyak seller tidak menyadari dirinya rugi jutaan rupiah selama berbulan – bulan.
Dimana marginnya cuman Rp5.000/barang, tapi saat ada orang yang beli produknya, seller malah kena biaya Rp10.000an. Bukannya untung, malah jadi rugi, karena minus Rp5.000 tiap ada yang beli produknya. Belum lagi ada biaya operasional dan gaji karyawan.
Disatu sisi, kalau naikin harga produk, nggak ada yang beli, karena produk komoditi ini mudah banget di cari, karena pembeli bisa memfilter berdasarkan produk sejenis yang harganya paling murah.
Nah sampai sekarang masih jadi dilema, bagi para seller di marketplace.
Jadi menurut kamu gimana? kamu stuju nggak kalau budaya gratis ongkir di Indonesia lama lama akan dihilangkan?
Kamu pernah nggak sih? kesulitan belajar dan memahami sesuatu? baik itu lewat membaca, ataupun mendengarkan penjelasan seseorang. Padahal, sudah nyimak sampai habis, tapi setelah beberapa jam kemudian, langsung lupa. Nggak ada yang nempel di otak. Jangankan paham, ingat aja engga. Disatu sisi, kamu dituntut untuk harus menguasai hal yang sedang kamu pelajari tersebut.
Lalu gimana cara mempelajari sesuatu, agar tidak hanya sekedar hafal, tapi juga kita mampu memahaminya dengan mendalam?
Kita bisa gunakan teknik belajar ala Feynman, yaitu Learning by Teaching. (Belajar dengan cara mengajar).
Quotes :
If you want to understand something well, explain it!
Jika kamu ingin memahami suatu hal dengan baik, maka cobalah untuk menjelaskannya.
Richard Feynman
Sebelum memulainya, hal yang paling penting kamu lakukan adalah, miliki mindset bahwa, topik yang sedang kamu pelajari ini, nantinya akan kamu jelaskan kembali ke orang lain.
Belajar itu jangan asal menghafal, tapi berusahalah memahami konteksnya.
Secara persepsi umum, orang yang berdiri di depan dan menjelaskan sesuatu ke orang lain (seperti guru ke murid, dosen ke mahasiswa, CEO ke karyawan, dll), maka persepsi secara umum, orang yang sedang menjelaskan itu punya pemahaman lebih dalam terkait topik tersebut, dibandingkan orang yang sedang dijelaskan.
Berdasarkan itu, belajar menggunakan metode Feynman ini, bikin kita jadi berupaya lebih, untuk memahami hal tersebut secara mendalam, sebelum kita menjelaskan ke orang lain.
Karena pasti harapannya, setelah kita jelaskan, orang lain akan mudah memahaminya, dan jika ada pertanyaan pun dari mereka, kita sebagai pembicara mampu menjawabnya dengan baik.
Belajar sesuatu dengan beban seperti itu, memaksa kita mempelajari sebuah topik secara mendalam, hingga ke akar-akarnya. Belajarpun jadi punya motivasi, dan akan jauh lebih fokus.
Step by stepnya :
Tentukan topik yang sedang ingin kamu pelajari
Pelajari dari beberapa sumber
Buat catatan belajarmu
Dari catatan itu, cobalah buat rangkumannya, lalu coba jelaskan di depan kaca, seakan-akan kamu sedang mengajar muridmu. Atau kamu bisa ambil smartphonemu, rekam kamu sedang bicara, done.
Dari sana kita akan tahu, bagian-bagian mana yang mampu kita jelaskan dengan lancar, dan bagian-bagian mana yang masih sulit kamu jelaskan,, Lakukan improvement, belajar ulang hal yang belum kamu pahami tadi, catat, lalu coba ajarkan lagi. Sampai kamu benar – benar bisa menjelaskan seluruh rangkuman belajarmu itu dengan fasih.
Belajar hanya dengan membaca dan menyimak, kita akan menjadi cukup paham.
Belajar sambil mencatat, kita akan jadi lebih ingat.
Belajar sambil menulis dan berupaya menjelaskannya ke orang lain, kita akan ingat dan paham lebih dalam.
Metode Ini cocok banget diterapkan, oleh orang orang yang ingin menjadi ahli di bidang tertentu.
Apapun bidang yang ingin kamu dalami, coba gunakan metode ini untuk belajar. Karena dapat membantumu termotivasi dan fokus selama belajar.
Jika kamu konsisten belajar dengan metode ini, maka kamu akan menjadi seorang expert di bidang yang sedang kamu dalami tersebut, relatif lebih cepat.
Intinya mempelajari satu hal yang dalam, dalam kurun waktu tertentu, sampai akhirnya menjadi seorang expert disana.
Ini sebenernya masalah receh banget, tapi karena ketidak tahuan saya, akhirnya ngabisin waktu berjam-jam, buat nyari solusinya. Siapa tau kalian juga ngalamin ini, jadi bisa menghemat waktu banget.
Oke saya mulai aja.
Jadi saya dalam kasus ini, saya lagi buat aplikasi, dan kebetulan lagi bikin fungsi untuk ngambil data di sebuah website, yang memang menyediakan data “Plantae Taxonomic Hierarchy“. atau istilah lainnya, data pengelompokan tanaman berdasarkan silsilah. Makin bingung lagi ya? 😅, oke biar nggak bingung saya kasih contoh penampakannya.
Kebetulan website tersebut menyediakan data lewat API (Application Programming Interface), salah satu format yang disediakan adalah JSON.
Cuman kebetulan data yang saya butuhkan ini, tersimpan di sebuah objek array bernama “hierarchySoFar” yang nilainya string.
Sejujurnya, saya belum pernah ngolah data objek array seperti ini. Tapi karena data yang tersedia cuman ini aja, ya udah di akal – akalin aja. Karena saya sudah 2 harian nyari data ini. Dan baru ketemu sore tadi. Awalnya saya pikir sumbernya di USDA, tapi ternyata adanya di ITIS. Ternyata malahan USDA ngambil datanya di ITIS.
Oke singkat cerita, value dari “hierarchySoFar” adalah :
Awalnya saya pikir-pikir, oh bisa nih, di manipulasi pakai fungsi “str_replace” dan “substr”. Akhirnya saya ambil datanya dengan fungsi “curl_init();“
Lalu dari variabel $klasifikasi_tanaman; saya manipulasi valuenya dengan cara ini.
Kalau kita echo si variabel $val_klasifikasi , Yang outputnya awalnya seperti ini :
Bayangan saya, variabel $val_klasifikasi; tinggal dibuat array dengan cara seperti ini. Secara teknis, variabel $val_klasifikasi isinya string dengan value :
Dimana, dengan cara seperti ini, value dari $val_klasifikasi; akan di dipecah berdasarkan parameter, dengan karakter tertentu. Apapun bisa. Dalam kasus saya diatas, value di pecah dengan parameter koma.
Maka, setiap ada koma, value akan dipecah menjadi kepingan – kepingan array.
Nah kalau saya tau fungsi ini dari awal, maka saya tidak perlu repot-repot memanipulasi pakai “str_replace” dan “substr”, seperti yang saya jelaskan di atas.
Langsung aja pakai fungsi explode, dengan parameter pemisah tanda dolar ($). Karena data default yang di sediakan di JSON adalah data string, dengan pemisah tanda dolar.
Untuk sementara, data yang saya ambil, sudah bisa ditampilkan di halaman sederhana. Seperti ini penampakannya.
Nah semoga ada manfaatnya. Setidaknya saya gunakan ini untuk catatan pribadi. Kalau lupa, bisa lihat catatan ini lagi hehehe.
Pertama – tama, saya ingatkan. JANGAN NGODING KALAU LAGI NGANTUK! 😅😅😅 Kalau emang ngantuk, tinggal tidur sebentar laaaah. 15 menit udah cukup kok. Dari pada nanti debugging error muter – muter selama berjam – jam, tapi engga nemu-nemu masalahnya apa. Yaaaaa namanya juga udah ngantuk! engga fokus.
Tanpa banyak cingcong, saya langsung aja, gimana cara dapetin value dari switches bootstrap.
Switches yang saya maksud, komponen yang mirip kayak saklar itu loh. Yang nilainya boolean, antara 0 dan 1, true or false, yes or no, dan seterusnya. Berikut penapakannya.
Kebetulan saya lagi buat halaman input data, dimana komponen switches ini saya pakai untuk input status data, apakah data tersebut aktif atau non-aktif. Ini penampakan halaman input yang baru saya buat. Perhatikan paling bawah, ada “Status Aktif”.
Saya pikir sudah selsai. Nah, tentu yang namanya halaman input, ada fungsi simpannya juga kan? Nah, di code query inputnya, saya panggil dengan cara biasa menggunakan metode $_POST :
$status = $_POST['status'];
Setelah saya coba, ternyata variabel status, valuenya kosong. Padahal defaultnya saya set “checked”, saya pikir statusnya checked, maka valuenya akan bernilai true atau 1. Ternyata checked atau unchecked, valuenya sama sama kosong. Sehingga, saat di eksekusi penyimpanan, terjadi error. Keterangannya bahwa, variabel status belum di definisikan, yang artinya kosong.
Isi kodenya seperti ini.
Kenapa valuenya bisa kosong ya? padahal di form inputnya, komponen switches nya sudah di set checked. Udah coba kasih value juga value=”1″, tapi tetep juga saat di echo, valuenya tetep kosong.
Sekitar 2 jam tuh saya muter – muter, nyari salahnya dimana.
Kenapa bisa gitu? karena ngantuk! 😅
2. Penyebabnya apa?
Ada dua hal yang membingungkan dari komponen Switches Bootstrap ini.
Yang pertama, code defaultnya tidak berisi tag value=””;
Yang kedua, code defaultnya tdak berisi tag name=””;
Ohya, untuk value, kamu bebas pakai angka, ataupun huruf. Karena apapun isinya, itu hanya penanda bahwa switch ini aktif.
Jadi saat komponen ini di switch on (hidup), maka saat di tangkap menggunakan fungsi $_POST, valuenya akan bernilai 1. Jika valuenya kamu isi huruf. Misalnya value=”yes”, maka nanti akan tertanggal “yes” juga.
Sebaliknya, jiika fungsi $_POST, tidak menangkap apa apa, maka itu artinya komponen ini di switch off (mati) oleh user.
Maaf belibet, karena lagi ngantuk 😅 yang penting paham lah pointnya ya.
Tambahin name=”[nama variabel]” dan value=”[nilai yang mau diisi]”
Pakai satu layar, bikin kerja jadi sangat terbatas
Jauh sebelum pakai macbook pro, dari dulu saya memang sudah terbiasa, kerja pakai dua layar monitor. Baik pakai PC ataupun laptop windows saya. Kebiasaan ini sudah dari Tahun 2009 lalu. Di kantor, maupun dirumah, saya selalu pakai dua layar monitor. Apalagi layarnya seukuran 24 inch misalnya, jadi nyaman banget kerja berlama lama.
Menurut saya, bekerja dengan satu layar monitor, itu sangat – sangat terbatas. Bekerja serasa kurang leluasa aja gitu. Apalagi kalau pakai laptop, layarnya berasa kecil banget. Jadi nggak bisa kuat lama lama depan laptop.
Setelah pindah ke Macbook, malah terbiasa pakai satu layar
Nah semenjak pindah ke macbook, dari Bulan November 2021 kemarin. Saya dengan terpaksa harus bekerja tanpa layar eksternal. Karena port macbook kan cuman berisi dua USB Type C aja. Sedangkan layar external saya inputnya HMDI.
Setelah beberapa hari pindah ke macbook, saya sempat beli USB Hub, merk Robot HT390, itu total berisi 9 port. Waktu itu saya beli dengan harga Rp373.000 di tokopedia.
Tapi begitu barang sampai, setelah saya coba, ternyata alatnya tidak berfungsi dengan baik. Dimana colokan USB Type C nya, tidak ngeklik saat di colokin ke laptop. Sehingga saat kesenggol dikit aja, alatnya disconnect.
Akhirnya saya konfirmasi ke official store nya, menurut mereka itu cacat produk, kemudian barangnya saya kembalikan, dan dana saya di refund.
Naaaaahhh jangan suudzon dulu, baca sampai habis, nanti saya akan jelaskan ternyata bukan salah produknya, tapi salah saya. Silahkan baca sampai habis.
Semenjak itu, saya kayak kurang percaya lagi dengan produk pihak ketiga (bukan original apple). Karena waktu itu, selain masalah colokan USB C nya yang longgar, alat ini juga panas banget setelah di colok beberapa menit ke macbook. Dan bikin baterai macbook saya cepet banget habis.
Saya juga tanya-tanya ke orang-orang di youtube, yang kebetulan ngereview Robot HT390 Multiport 9 in 1 juga, dan kata mereka memang panas.
Disatu sisi, kalau beli Port USB C adapter asli Apple, harganya Rp 1.350.000 😅 Itu cuman berisi 3 port aja. USB 3, USB C, sama HMDI.
Dan setelah saya tanya – tanya ke orang yang pakai adapter asli apple ini, ternyata setelah di colokin beberapa jam, adapternya ternyata panas juga loh. Ya walaupun katanya panas yang wajar gitu sih.
Karena kalau saya pakai laptop windows ataupun PC, belum pernah yang namanya nyolokin device dan panas. Mindset saya bilang, kalau alat di colokin dan itu panas banget, artinya itu nggak normal. Di Benak saya seperti itu.
Kalau flashdisk emang kadang aja panas, kalau lagi di pakai ngirim file, tapi kalau kabel HMDI yang nantinya kita colok berjam-jam berhari hari, dan kalau itu panas. Wah menurut saya kurang nyaman aja sih. Apalagi menguras baterai, wah jadi kepikiran pasti.
Akhirnya, karena hal itu, sampai 1 hari sebelum saya menulis blog ini, saya tidak pakai monitor eksternal untuk macbook saya. Dan sudah terbiasa bekerja dengan satu layar.
Lalu kenapa sekarang mau pakai monitor eksternal lagi?
Karena butuh. 1 Tahun belakangan, kebetulan hal – hal yang saya kerjakan, merupakan pekerjaan yang tergolong ringan. Jadi semuanya cukup di satu layar 13 inch macbook. Sedangkan sebentar lagi, saya mulai masuk ke Fasa 2 untuk AH Project.
Tentang AH Project, silahkan simak dokumentasinya disini
Fasa 1, AH Project dicanangkan hanya sebatas website kamus tanaman obat. Sedangkan di Fasa 2, sudah akan mulai dilengkapi dengan fitur toko online. Dimana orang-orang bisa langsung membeli produk yang berkaitan dengan hal yang ia cari di website AH Project.
Saat masuk ke fasa 2 ini, salah satu pekerjaan besarnya adalah riset produk, dan sekaligus mendatanya ke sebuah database. Dan untuk mengerjakan ini, saya butuh banget pakai dua layar. Agar bekerja lebih produktif.
Saya beli di Tokopedia, dan karena butuh cepet, saya cari seller yang lokasinya di Denpasar (satu kota dengan saya). Ketemulah toko bernama Gading Bali Shop.
Toko bintang 5, jadi saya tanpa banyak mikir, udah pasti amanah sellernya. Saya tanya stok, katanya ready, langsung saya checkout, dan menunggu beberapa lama, akhirnya paketnya sampai.
Begitu paket datang, saya nggak nunggu lama, langsung unboxing. pengen cepet-cepet nyoba, untuk mastiin apakah berfungsi atau engga, takutnya sama nasibnya kayak USB Type C HUB yang saya beli terdahulu.
Setelah pakai, produknya gimana?
Setelah saya unboxing, hal pertama yang saya perhatikan adalah, USB Type C nya. Dimana bentuknya sama kayak USB Hub merk Robot, yang dulu pernah saya beli dan nggak bisa berfungsi, karena saat di colokin, nggak klik. (yang saya ceritakan di atas).
Ehhh bener aja, setelah saya colokin, ternyata emang longgar juga. jadi kayak terulang lagi kasus yang dulu. Tapi saya mikir sejenak, nggak mungkin lah semua USB Type C merk Robot seperti ini. Saya yakin nggak mungkin. Pasti ada yang salah ini.
Terus tiba – tiba kayak ada suara gitu di kepala saya, sumpah nggak bohong. Yang bilang, “colokin yang kuat”. terus saya colokin yang kuat, sambil takut-takut gitu, karena saya kuatir port USB C macbook saya rusak, tapi tetap saya paksakan dan akhirnya bunyi klik.
Wahhhhh… ternyataaaa emang harus di colokin banget, nggak kayak nyolokin kabel charger asli macbook, yang di cokinnya itu tanpa tenaga, udah nyolok dan udah ngunci klik.
Ternyata USB Type C merk Robot ini, harus di colokin pakai tenaga gitu. Barulah bunyi klik dan ngunci.
Akhirnya saya mikir, berarti USB Hub yang saya refund dulu itu bukan rusak, tapi emang nggak saya colokin kuat aja. Wah saya nyesel sih. Ternyata salah nya di saya.
Setelah adapternya berhasil nyolok ke laptop, saya lanjutkan nyolokin kabel HDMI monitor saya ke adapter. Setelah itu saya hidupin monitornya. Jreeeng jreeeng. tampilah layar ungu khas MacOS Ventura.
Ini pertama kalinya macbook saya di colokin ke monitor eksternal. Sasanya gimana gitu.
Setelah beberapa jam pemakaian untuk kerja, dengan aktifitas antar layar 1 ke 2, sangat intens. dan ternyata Robot HT100 ini luamayan terasa panas. Sayangnya termogun saya rusak, jadi saya tidak bisa kasih tau suhu kongkritnya berapa. Tapi hangatnya masih tergolong wajar. Kapan-kapan saya ukur deh pakai termogun.